2012, Sawit Sangat Menjanjikan


This slideshow requires JavaScript.

Pontianak – Permintaan CPO (crude palm oil) di pasar dunia terus merangkak naik. Prospek yang menjanjikan bagi para pelaku sawit di Kalbar pada 2012 ini. Baik bagi petani, perusahaan swasta, maupun BUMN sawit.

Angin segar ini bukan hanya untuk para pelaku bisnis sawit belaka. Bersaingnya CPO dengan minyak kacang dan seed yang rajin melakukan black campaign lewat NGO yang dibiayai asing, itu justru menguntungkan ekonomi Kalbar pascatenggelamnya kayu dan perambahan hutan.

Kepada Darussalam dari Equator, Wagio Ripto Sumarto, Direktur SDM dan Umum PTPN XIII, menyatakan BUMN sawit terbesar di Kalbar ini akan mengembangkan area dan meningkatkan produksi CPO hingga 2014 mendatang.

“Permintaan CPO semakin tinggi saat ini. Dulu kita hanya menjual ke pasar Eropa Timur, sekarang kita meluaskan pasar hingga Cina dan India,” tutur Wagio kepada Equator di kantornya, Senin (2/1).

Tentu untuk memenuhi kebutuhan dunia PTPN XIII akan mengembangkan lahan inti hingga 75 ribu hektare untuk meningkatkan produksi CPO hingga 350 ribu ton per tahunnya.

Besarnya permintaan CPO ini, kata Wagio, seiring dengan penggunaan minyak nabati sebagai bahan pengganti minyak bumi yang tingkat emisi karbonnya sudah sangat tinggi. Sedangkan sawit dan minyak nabati lainnya adalah sumber bahan bakar yang terbarukan.

“Ini merupakan konsekuensi dari Kyoto Protocol, kesepakatan dunia mengurangi gas emisi atau gas buang sebesar 20 persen, dan harus tercapai di tahun 2020,” jelas Wagio.

Solusinya, minyak sawit sebagai pengganti solar akan terus meningkat baik di Asia maupun Eropa di masa depan. “Selain sangat murah, minyak sawit dapat dijadikan energi yang ramah lingkungan. Makanya permintaan minyak sawit semakin bertambah setiap tahunnya,” yakin Wagio.

Dengan permintaan tersebut, lanjut Wagio, maka setiap tahunnya harga CPO pun semakin tinggi. Terlebih bersaing dengan minyak kacang dan minyak biji-bijian yang produksinya tidak akan mampu bersaing dengan sawit.

“Permintaan semakin banyak, maka harga pun semakin tinggi. Untuk sekarang saja sudah mencapai Rp 1.600 per kg TBS (tandan buah segar), sedangkan CPO mencapai Rp 7.000 per liter. Ini jauh lebih tinggi dari 2008 yang hanya Rp 1.000 rupiah per kg TBS. Kenaikan ini jelas akan menambah penghasilan petani kita,” papar Wagio.

Prospek minyak sawit dunia bukan hanya dilirik rakyat dan pengusaha saja. BUMN yang mulai beroperasi sejak 1976 ini berancang-ancang ekspansi kebunnya.

“Sebelumnya hanya memiliki lahan inti seluas 59.821 hektare dengan plasma 60.507 hektare yang menghampar di Kabupaten Landak dan Sanggau dengan produksi 340.000 ton per tahun, kini akan diperluas lagi,” kata putra kelahiran Kabupaten Sanggau ini.

PTPN XIII jelas tidak bisa bekerja sendiri. Lahan pihak ketiga juga dirangkul guna menambah produksi CPO agar meningkat hingga 4,3 persen per tahun.

Sejak buka lahan tahun 1976 dan berproduksi di tahun 1980, manajemen PT PN XIII makin melihat kesadaran masyarakat akan manfaat kebun sawit bagi peningkatan ekonomi.

“Perbaikan ini sejalan dengan visi kita, yakni tumbuh bersama mitra. Petani dan pihak ketiga adalah mitra kita. Makanya antara luas lahan inti dan plasma hendaknya memproduksi TBS yang sama,” jelas Wagio.

Bagaimana menyamakan visi tersebut, petani harus dibina lewat pelatihan hingga memberikan pinjaman, terutama bantuan pupuk.

“Memang diakui masih ada kekurangan produksi TBS petani kita. Paling tidak harus menyamai hasil produksi inti 18 ton per hektarenya. Petani kita hanya mampu 10-11 ton per hektarnya. Ini disadari perlu pembinaan dan bantuan dari PTPN XII. Dan kita sudah membuat program tersebut yang diberi nama konsep Pola Satu Manajemen,” ungkap Wagio.

Konsep tersebut berupa pelatihan kepada petani, baik bagaimana pemupukan, merawat hingga membangun jalan guna mengangkut TBS. Selain pendidikan manajemen pengelolaan keuangan, keluarga petani didorong membangun semangat gotong royong dan kebersamaan dalam membangun perkebunan sawit.

“Kita harus tumbuh dan berkembang bersama. Kita sebagai badan penjamin mereka, bila ingin mendapatkan bantuan, baik ke bank maupun pihak lain. Seperti bantuan dari PT Pertamina berupa pupuk sebesar Rp 213 miliar pada 2011-2012,” jelas Wagio.

Harus diakui, membangun masyarakat sawit memang tidak gampang. Namun kini terasa, kota-kota tumbuh oleh sawit. Ekonomi masyarakat juga meningkat dengan hadirnya sawit.

“Bayangkan, untuk saat ini saja setiap tahun PTPN XIII mengeluarkan dana Rp 100 miliar untuk membayar TBS petani, gaji karyawan dan pihak ketiga. Coba hitung, begitu besarnya perputaran uang di daerah sawit,” ungkapnya.

Wajar bila petani kita mampu menyekolahkan anaknya, membeli sepeda motor, dan membangun rumah dari hasil sawit. “Yang pasti kehidupan di daerah tersebut semakin berkembang,” papar Wagio. (lam)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: