Lebih Baik dari Dunia dan Seisinya


Oleh Miftah Alaflah

Pagi ini aku pulang cepat, tidak seperti biasanya, sampai di kamar langsung aku nyalakan pemanas ruangan, yang mesti aku getok-getok dan digoyangkan dulu baru ia akan hidup, pemanas tua, umurnya hampir sama dengan umurku di negri para nabi ini. Musim dingin tidak banyak mahasiswa Asia yang tahan lama-lama i’tikaf di masjid selepas shalat subuh, dan aku termasuk salah satunya, udaranya sangat menusuk ke tulang, berkali-kali aku pernah mencoba, meski sudah memakai kaos kaki dua rangkap, kaki ini tetap saja terasa menggigil, ya sudah tidak usah dipaksakan pikirku, melanjutkan tilawah di rumah akan terasa lebih nyaman.

Musim dingin memang cobaan, cobaan dalam beribadah, kalau tidak kuat-kuat iman berselimut pada jam setengah lima pagi adalah nikmat dunia yang tak terkira. Alhamdulillah aku masih sanggup pergi ke masjid meski hanya sekedar melaksanakan shalat dan pulang lagi.

Subuh, banyak penemuan menarik tentang pada rentan waktu ini, bahwa ternyata udara yang paling baik dalam satu hari adalah udara yang berkisar antara pukul tiga pagi sampai terbitnya matahari sekitar pukul enam, apabila kita menghirup udara pada waktu tersebut, ia dapat membersihkan paru-paru kita dan melindunginya seharian penuh, apalagi mereka yang hidup di perkotaan, dalam bayang-bayang polusi udara dari asap kendaraan dan pabrik-pabrik.

Itu sebabnya anjuran para dokter kepada para pengidap peyakit jantung dan paru-paru adalah agar memperbanyak menghirup udara pagi. Ketika manusia mulai menua maka biasanya akan dibarengi dengan berbagai penyakit, sering kita temukan lansia yang mengidap penyakit jantung, paru-paru dan banyak lagi, di samping faktor organ tubuh yang mulai melemah, juga banyak disebabkan pada waktu muda tidak menjalani pola hidup sehat, salah satunya jarang menghirup udara pagi. Jika sudah seperti itu, maka berapa banyak biaya yang mereka keluarkan? puluhan bahkan sampai ratusan juta.

Fakta bahwa berjalan ke masjid untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah adalah mengajarkan kita sebuah proses pola hidup sehat yang berkesinambungan. Bahkan orang terkaya sekalipun bisa jatuh miskin hanya untuk membiayai pengobatan penyakit yang dideritanya, seluruh harta yang dimilikinya rela ditukar dengan sebuah kesehatan, bukankah itu menandakan bahwa kesehatan lebih berharga dari harta bahkan seluruh yang dimilikinya di dunia? sebab itu Rasul saw berpesan bahwa, “Shalat dua rakaat sebelum fajar lebih baik dari dunia dan seisinya,” karena di samping pahala yang berlimpah, juga ada nikmat kesehatan bagi yang istiqamah melaksanakannya.

Sampai-sampai ketika seorang buta bertanya, “Wahai Rasulullah, aku adalah seorang yang buta, tidak ada seorang penuntun yang dapat menuntunku ke Masjid, maka bolehkah aku tidak shalat dengan berjamaah dan cukup bagiku shalat di rumah saja?” Rasulullah saw bertanya kepadanya, “Apakah kamu mendengar adzan panggilan shalat?” Orang buta itu menjawab, “Ya”. Maka kata Rasulullah saw, “Kalau begitu, sambutlah (berangkatlah shalat berjamaah).” (HR. Muslim)

“Tidaklah kami menurunkan Al-Quran ini kepadamu agar engkau menjadi susah.” (QS. Taha [20] : 2)

Dumyat, Egypt.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: