Sebuah Catatan Kecil Tentang “Keluarga Bahagia”


Oleh Anindya Sugiyarto

Mendengarkan sebuah nasyid dari Saujana tentang keluarga bahagia, sangat sekali mendalam maknanya, dalam video klipnya diceritakan sebuah kenyataan yang sangat kontras antara keluarga dambaan setiap insan yang bernama manusia dengan keluarga yang sangat gersang karena dahaga kasih sayang dimana anak-anak sendiri sampai menangis kapan bs bertemu dengan kedua orang tuanya.

Dalam masa sekarang ini banyak kenyataan yang demikian, karena banyaknya orang tua yang demikian sibuk dengan urusannya sehingga lupa akan tujuan menggapai keluarga bahagia itu sendiri, merasa bahwa bahagia itu hanya bisa diraih dengan limpahan materi dan kemewahan, namun melupakan belaian tangan kasih dan sayang ibu bapak kepada anak-anaknya.

Tidak hanya hungry of father saja bahkan semenjak era emansipasi semakin menggelak para ibupun menjadi lumrah ketika harus meninggalkan anak-anak bahkan bayi yang sebenarnya masih sangat ketergantungan akan asinya.

Meskipun ASI bisa juga diberikan ketika ibu aktif bekerja ternyata akan sangat berbeda hasilnya ketika bayi itu menyusu langsung terhadap ibu. Semodern dan secanggih apapun usaha manusia ketika melawan kodrat alami aturan Allah pasti ada efek samping yang tidak sederhana. Allah itu Maha tahu kebutuhan hambaNya.

Ketika zaman sudah modern seperti dalam film-film yang kuingat adalah film doraemon dimana manusia sangat tergantung sangat dengan yang namanya robot sampai pada akhirnya manusia itu akhirnya lumpuh kemudian dia harus masuk kapsul(semacam robot juga) karena tak bisa bergerak kecuali dengan kapsul itu. Pada akhirnya robot-robot itu menyerang balik manusia dan ingin menguasai manusia.

Benar itu hanya film kartun tapi jangan sampailah terjadi benar-benar “Naudzubillahimndzalik”. Lantas apa hubungannya dengan keluarga bahagia? saya rasa ada hal-hal fitrah yang tetap harus dilakukan manusia untuk memperbaiki peradaban(generasi) itu sendiri agar jangan sampai terjadi generasi robot yang apa-apa serba praktis.

Tentunya kita tidak ingin menjadi generasi yang maghdlub yaitu mengetahui hukum-hukum Allah akan tetapi kita meninggalkannya dengan berbagai alasan. Ataupun generasi yang Dhollal yaitu orang bodoh akan tetapi tidak mau tahu dan mencari tahu. Sehingga Allah murka kepada kita..

Memulai memang harus dari diri dan keluarga, berat memang karena tantangan begitu dahsyat, meski sebenarnya sederhana dalam konsep, seperti dalam kisah sebuah nasyid Rumahku syurgaku

Sedamai alam raya

Menghijau luas membentang

Seindah lukisan Tuhan

Yang tak pernah lelah

Memuji Keagungan-Nya

Itulah keindahan

Dambaan setiap insan

Merindukan hidup damai

Kekal dan harmoni

Ayah ibu kami anakmu

belahan jiwamu

Kami pertama hidupmu

sebagai cahaya mata

Mahligai rumah tangga bahagia

Lahir dari jiwa

Tak lepas ujian, dan cobaan Tuhan

Ia akan terpancar

Karena taat dan sifat taqwa

Rasa kasih dan sayang

Juga tanggung jawab

Itulah rumah tangga

Yang mendapat rahmat

dan berkah Alloh

Rumahku Syurgaku

Benarlah jika ada yang mengatakan anak adalah masa depan dunia akhirat kita. Selamat menggapai keuarga bahagia “Baiti Jannati”. Barokallohulakum saudaraku seiman semuanya…

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: