Meretas Masalah, Mengais Hikmah


Oleh Rifki

Hidup tak selamanya indah. Itu sudah pasti. Hidup adalah perjuangan, bagi siapa pun dan di mana pun seseorang berada. Mengharapkan kesenangan dalam sebuah perjuangan, dari awal hingga akhir hanyalah sebuah mimpi mengharapkan rembulan di siang hari. Menghadapi permasalahan yang datang, mungkin menjadi salah satu contoh perjuangan hidup.

Menghadapi kesusahan hidup, mengajarkan seseorang akan arti kesenangan. Menapak jalan yang penuh dengan onak duri dalam pencapaian sebuah cita-cita, mungkin akan mengajarkan seseorang akan makna sebuah keberhasilan. Kegagalan menyayangi dan mencintai makhluk yang fana, bisa jadi menunjukkan jalan akan cinta dan sayang dari Sang Khaliq yang baka.

Masalah yang kerap datang menghampiri, baik kecil maupun besar, ia datang tidak bersama sepi. Ada kawan yang menemani. Hikmah, mungkin itu namanya. Bukankah segala ungkapan yang senada dengan “Ada hikmah dalam setiap kejadian,” sering kita ucapkan kepada orang lain manakala orang tersebut sedang mengalami masalah atau suatu kejadian? Bukankah ungkapan tersebut juga yang sampai ke telinga kita manakala suadara atau sahabat datang menghibur kita saat diri sedang berkeluh kesah atas sebuah masalah?

Ketika masalah itu datang, apa pun yang kita lakukan terhadapnya, entah berlari, membiarkan, memperkecil, memperkeruh, atau yang terbaik adalah menyelesaikan masalah tersebut, akan menjadi sebuah pelajaran hidup. Esok lusa bisa jadi merupakan harta yang berharga berupa pengalaman hidup. Yang bisa menjadi pegangan hidup atau pun bisa berbagi dengan orang lain ketika orang tersebut menghadapi masalah serupa.

Adalah sebuah keberuntungan bila kita di kelilingi oleh orang-orang yang manyayangi, mau menerima diri kita apa adanya, mau memberikan kedua telinga mereka untuk mendengar keluh kesah atas masalah yang kita hadapi. Bahkan ada kalanya memberi solusi yang belum pernah terlintas dalam hati dan pikiran. Kerinduan akan kehadiran mereka tak menambah rana di jiwa. Tak perlu lagi diri bersenandung tentang luka menyayat hati, karena mereka bisa langsung mengerti tentang apa yang terjadi.

Tak perlu bertanya kepada sang malam yang nyata-nyata hanya berpayung langit hitam. Tak perlu bertanya kepada siang yang hanya berupa terik dan menambah rasa dahaga. Tak perlu mengurai cerita kepada gunung menjulang, pohon yang rindang, atau pun batu karang, yang nyata-nyata mereka hanya bisu seribu bahasa. Cukuplah bersama orang-orang di sekeliling kita, hikmah atas segala masalah bisa digali bersama-sama. Terlebih lagi, mengadu kepada Sang Pencipta yang telah menciptakan semuanya. Itu lebih utama.

Dalam menjalani hidup ini, saya mencoba untuk terus belajar mencari-cari hikmah atas apa yang pernah terjadi pada diri saya.

Di keluarga, sebagai anak pertama, boleh dibilang, perjalanan hidup saya lah yang paling mudah dan lancar jika dibandingkan dengan adik-adik saya yang lain. Di balik itu semua, ternyata orang tua saya lah yang telah menyiapkan segala sesuatunya untuk saya. Dengan keringat seorang ayah yang mau bersusah payah mengayuh sepeda untuk menempuh jarak yang mungkin tak pernah saya sanggup menempuhnya untuk menjemput rezeki bagi anak-anak beliau, saya bisa seperti sekarang. Bersama usaha seorang ibu yang berdagang jamu, kue, atau pun nasi uduk untuk membantu ayah serta doa beliau di setiap shalat, telah membawa saya ke dalam keadaan seperti saat ini.

Ketika saya kehilangan sepasang sepatu, jam tangan yang rusak, serta handphone yang kehujanan, ada pelajaran bahwa saya harus lebih hati-hati menjaga barang yang telah menjadi milik saya. Kejadian itu semua membuktikan bahwa saya kurang bisa bersyukur. Bukankah salah satu bentuk syukur atas karunia yang telah Allah berikan adalah menjaga dengan sebaik-baiknya?

Ketika saya terjatuh di atas pasir berbisa yang menyebabkan diri saya terluka dan motor saya lecet-lecet, sepertinya mengajarkan saya akan sebuah keikhlasan
yang hilang dalam melakuksan suatu pekerjaan. Amarah dan kekesalan nyata-nyata tidak bisa menjadikan sesuatu lebih baik.

Bahkan ketika sebuah batang pohon tumbang menimpa saya sehingga pundak saya patah dan motor yang saya tunggangi juga rusak, sepertinya mengingatkan saya akan suatu kesalahan yang telah saya lakukakn sebelumnya.

Dan kini, saya mencoba lagi untuk meretas masalah yang saya hadapi, untuk mengais hikmah yang masih tersembunyi di balik aneka peristiwa yang saya alami.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: