10 Ribu Rupiah Membuat Anda Mengerti Cara Bersyukur


jogja1.jpegSesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. QS. Al Baqarah : 243 Continue reading

Kejahatan Narkoba buah dari Sistem Kapitalis Sekuler


drugJanuari 2013 ini publik dihentak dengan penangkapan artis Raffi Ahmad bersama rekan-rekannya oleh BNN (Badan Narkotika Nasional) . Penangkapan ini menambah panjang daftar kasus narkoba yang menjerat kalangan artis.

Petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) menggerebek rumah Raffi Ahmad di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Ahad (27/1). Raffi bersama 16 lainnya diciduk saat diduga sedang pesta narkoba. (metrotvnews.com, 27/1/2013)

Meski sosialisasi tentang bahaya narkoba terus digalakkan, penangkapan pelaku narkoba terus digencarkan, namun peredaran narkoba di negeri ini seperti tidak ada habisnya. Kapolda Metro Jaya Irjen Putut Eko Bayuseno mengungkapkan, tahun 2011 terjadi 4.817 kasus narkoba dan tahun 2012 terjadi peningkatan menjadi 4.836 kasus yang terjadi. (merdeka.com, 03/01/2013)

Jika diperhatikan, makin akutnya kejahatan narkoba, disebabkan penanganan yang salah dan penegakan hukum yang lemah serta hukuman yang tidak memberikan efek jera. Adanya wacana pemakai narkoba tidak akan dikriminalkan bisa kita dapati dari pernyataan Ibu Negara Ani Yudhoyono pada tahun 2010.  Beliau menyatakan sebaiknya pengguna narkoba tidak diperlakukan sebagai kriminal. Yang terjerumus menggunakan narkoba dibimbing dan ditempatkan di pusat rehabilitasi. Sedangkan bagi pengedar narkoba, Ani Yudhoyono menyatakan dukungan jika ditempatkan di penjara sebagai efek jeranya. (hidayatullah.com, 31/1/2010)

Pendapat serupa juga datang dari Kepala Humas BNN Kombes Sumirat Dwiyanto, beliau  menghimbau kepada penyalahguna narkoba untuk segera melapor bila dirinya menjadi korban. Jangan tunggu ditangkap karena hal ini dijamin oleh Undang-undang No. 35/2009 tentang Narkotika dan PP No 25/2011 dimana mereka yang dinyatakan sebagai korban penyalahgunaan narkotika memiliki hak untuk disembuhkan dengan jalan rehabilitasi.
Selain itu, hak untuk mendapatkan pemulihan juga dikuatkan dalam Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) No 3/2011 tentang Penempatan Korban Penyalahgunaan Narkotika di Lembaga Rehabilitasi. (news.detik.com, 28/01/2013)

Dari fakta di atas bisa kita tarik satu kesimpulan bahwa hanya podusen dan pengedar yang dikriminalkan, sementara pengguna –yang jelas-jelas menggunakan narkoba- justru dianggap bukan pelaku kriminal. Sungguh sangat rancu, karena jelas sikap tersebut terkategori sebagai tindakan penyalahgunaan narkoba. Kita juga tidak boleh melupakan bahwa tidak mungkin akan ada penawaran jika tidak ada permintaan. Bukankah mengkonsumsi narkoba merupakan satu aktivitas yang dikerjakan dengan penuh kesadaran? Lantas, dari sisi mana mereka pantas menyandang predikat sebagai korban?

Wacana ini justru bisa melenakan sampai akhirnya melunturkan rasa takut para pemakai narkoba, sebab mereka tidak akan dianggap sebagai pelaku kriminal. Mereka merasa dibela, dilindungi dengan wacana tersebut.
Hal ini dipertegas oleh Sumirat, “Mereka yang melapor tentu tidak akan dipenjara, tapi diobati. Dan seluruh biayanya ditanggung pemerintah.” (news.detik.com, 28/01/2013)

Tidak hanya itu efek wacana ini juga mempengaruhi opini di tengah-tengah masyarakat. Mereka banyak memberikan empati terhadap para pengguna narkoba yang mereka anggap sebagai korban. Seperti contoh untuk kasus narkoba dari artis Raffi Ahmad sendiri, berbagai komentar bermunculan di laman jejaring sosial Twitter setelah Raffi Ahmad dikabarkan ditangkap oleh Badan Narkotika Nasional (BNN), Minggu (27/1) pukul 06.00 WIB di Kawasan Lebak Bulus Jakarta Selatan.

Di antara komentar tersebut banyak yang menyayangkan, memberi dukungan, bahkan mendoakannya. (metrotvnews.com, 27/01/2013)

Ditambah lagi penegakan hukum dalam masalah narkoba ini sangat buruk. Hal ini dilihat dari terungkapnya sindikat narkoba di Lembaga Pemasyarakatan.  Boski, narapidana Lembaga Pemasyarakatan (LP) Nusakambangan, Jawa Tengah, sekaligus otak jaringan narkotika internasional diringkus oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) karena mengendalikan jaringan narkobanya sejak tahun 2002. (jurnas.com, 7/1/2011)

Berita terbaru dari Surabaya mengungkapkan sindikat narkoba lapas libatkan pelajar SMP yang berisinisal JN. Dalam pemeriksaan, JN mengaku mendapat pasokan narkoba dari bandarnya yang masih mendekam di tahanan. (surabaya.tribunnews.com, 30/01/2013)

Belum lagi kasus narkoba menjerat kalangan penegak hukum. Baru-baru ini salah seorang anggota Polres Natuna, Kepulauan Riau (Kepri). Pada Rabu (23/1) ditangkap Tim Opsnal Polres Rokan Hulu saat ingin melakukan transaksi narkoba jenis sabu-sabu di Wisma Putri Melayu, Desa Pematang Tebih, Ujung Batu, Rokan Hulu. (pekanbaru.tribunnews.com, 25/01/2013)

Keinginan menjadikan Indonesia bebas dari narkoba semakin jauh panggang dari api jika melihat hukuman yang dijatuhkan tidak  memberikan efek jera. Data Kementrian Hukum dan HAM mencatat, sejak tahun 2004 hingga 2011 lalu Presiden menerima 128 permohonan grasi dari terpidana kasus narkoba. Namun hanya 19 yang dikabulkan dan seluruhnya diberikan atas dasar kemanusiaan, dimana 10 orang karena dibawah umur, satu orang karena berstatus tunanetra, dan selebihnya hanya berupa keringanan hukuman. (radioaustralia.net.au, 18/10/2012)

Tidak mungkin ada asap jika tidak ada api yang menyala. Kejahatan narkoba ini bukan berarti tidak ada penyebabnya. Penerapan sistem sekuler-kapitalisme di tengah kehidupan masyarakat adalah akar permasalahan sesungguhnya. Akar permasalahan dengan standar manfaat dan doktrin liberalisme dari sistem jahiliyah ini akan membuahkan gaya hidup hedonisme, yang memuja kenikmatan jasmani setinggi-tingginya. Sistem ini semakin sempurna kerusakannya bagi tatanan kemuliaan masyarakat tatkala akidah sekulerisme yang meminggirkan agama sukses membingkai setiap aspek kehidupan.

Jika telah dipahami bahwa sistem sekulerisme kapitalisme ini adalah akar dari permasalahan hidup terutama telah menjadi pupuk kompos bagi tumbuh suburnya kejahatan dalam kasus narkoba, maka dari itu untuk memberantas narkoba harus dilakukan dengan membongkar landasan hidup masyarakat yang rusak dengan menggantikannya dengan yang benar, yang sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal dan menentramkan hati, yaitu akidah Islam.

Dari sisi akidah, Islam mengajarkan bahwa setiap perbuatan di dunia akan mendapatkan ganjaran di akhirat. Perbuatan baik akan mendapatkan pahala, dan sebaliknya perbuatan dosa seperti penyalahgunaan narkoba akan dijatuhi siksa pedih diakhirat, meskipun pelakunya bisa meloloskan diri dari sanksi di dunia.

Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah harus memenuhi janji bagi siapa saja yang meminum minuman yang memabukkan untuk memberinya minuman thinatal khabal. Mereka bertanya,” ya Rasulullah apakah thinatal khabal itu?”, Rasulullah saw. Bersabda: “keringat penduduk neraka atau ampas (sisa perasan) penduduk neraka.” (HR. Muslim no.2003, dari Ibnu Umar)

Islam juga mewajibkan kepada negara untuk senantiasa memupuk keimanan rakyatnya. Maka hanya orang yang pengaruh imannya lemah dan terperdaya oleh setan yang akan melakukan dosa atau kriminal tatkala sistem Islam diterapkan. Jika pun demikian, maka peluang untuk itu dipersempit atau bahkan ditutup oleh syariah Islam melalui penerapan sistem pidana dan sanksi dimana sanksi hukum bisa membuat jera dan mencegah dilakukannya kejahatan.

Hal itu sebab, narkoba jelas hukumnya haram. Ummu Salamah menuturkan: “Rasulullah saw melarang setiap zat yang memabukkan dan menenangkan .”(HR Abu Dawud dan Ahmad)

Muffatir (zat menenangkan) adalah setiap zat relaksan atau zat penenang, yaitu yang kita kenal sebagai obat psikotropika. Al-‘Iraqi dan Ibn Taymiyah menukilkan adanya kesepakatan (ijmak) akan keharaman candu/ganja (lihat, Salubus Salam, iv/39, Dar Ihya’ Turats al-‘Arabi 1379).

Mengkonsumsi narkoba apalagi memproduksi dan mengedarkannya merupakan dosa dan perbuatan kriminal. Disamping diobati atau direhabilitasi, pelakunya juga harus dikenai sanksi, yaitu sanksi ta’zir, dimana hukumannya dari sisi jenis kadarnya diserahkan kepada ijtihad qadhi. Sanksinya bisa dalam bentuk ekspos, penjara, denda, jilid bahkan sampai hukuman mati dengan melihat tingkat kejahatan dan bahayanya bagi masyarakat. Pelaksanaan hukuman itu harus dilaksanakan secepatnya dan pelaksanaannya diketahui atau bahkan disaksikan oleh masyarakat seperti dalam had zina (lihat QS an-Nur (24): 2). Dengan begitu masyarakat akan paham bahwa itu adalah sanksi atas kejahatan dan merasa ngeri. Masyarakat akan berpikir ribuan kali untuk melakukan kejahatan yang jelas-jelas bertentangan dengan hukum syara. Maka dari itu kejahatan penyalahgunaan narkoba akan bisa diselesaikan tuntas melalui penerapan syariah Islam dalam bingkai Khilafah Rasyidah bukan dalam sistem sekular yang bobrok ini.  (Ully Armia)

Saat Menanam akan Berbuah Sedekah


Oleh Dewi Khairani

Bismillahirrahmanirrahim,

Ketika kecil, bunda pernah memberikan pilihan kepada saya untuk menanam beberapa tanaman buah di depan halaman, alasan yang bunda katakan saat itu cukup sederhana “biar teduh pekarangan kita”. Jadilah saya mulai menebar-nebar segala biji tumbuhan yang saya punya: jeruk, pepaya, cabai, jambu biji, hingga mangga. Waktu berlalu, halaman rumah saya mulai menghijau dan teduh, bahkan kami sempat memiliki sebuah pohon beringin yang ukurannya ‘lumayan’.

Namun ada satu lagi kebahagiaan yang saya rasakan saat itu adalah ketika pohon buah mulai mengeluarkan buah-buahnya yang berwarna-warni dan tentunya lezat rasanya. Saya mulai telaten merawat setiap bunga yang muncul, untuk jambu biji setiap bunga yang telah rontok maka saya akan melindunginya dengan plastik bening agar terhindar dari kupu-kupu ulat. Saya bahkan sempat melarang siapapun untuk menyentuh bakal buah yang telah saya rawat.

Pada saat waktunya saya memetik buah-buahan tersebut, rasa bahagia tak terkira di hati ini. Apalagi ketika saya melihat buah-buah tersebut besar, dan bersih. Tak jarang, kami membawa buah-buah tersebut ke tetangga atau ke rumak nenek saya. Bundapun selalu mengungkit betapa telatennya saya merawat buah-buah tersebut, pujian yang selalu membuat hati seorang anak kecil bahagia.

Tidak, saat itu saya belum tau bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda lewat hadist yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا, أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلَمِنْهُ طَيْرٌأَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيْمَةٌ ٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang muslim menanam pohon, tidak pula menanam tanaman kemudian hasil tanaman tersebut dimakan oleh burung, manusia atau binatang melainkan (tanaman tersebut) menjadi sedekah baginya. ”

Ketika saya mengetahui hadist di atas, saya sudah cukup usia untuk memahami betapa tinggi posisi kebermanfaatan seseorang manusia dalam Islam, pun walau dia hanya dapat menanam sebuah pohon.
Jika kita renungkan lebih lanjut, memang sungguh mulia tugas para penanam itu. Tidak saja mereka berguna bagi manusia sebagai orang yang membantu menyediakan makanan yang merupakan kebutuhan dasar manusia, mereka juga secara tidak langsung membantu makhluk Allah yang lain, misalnya burung, lebah hingga serangga kecil seperti semut.

Saya juga semakin meyakini bahwa Islam adalah rahmatan lil’alamin. Islam memposisikan hubungan antar makhluk Allah yang lain sama pentingnya dengan hubungan antar manusia dan hubungan kepada Allah itu sendiri. Ketika mungkin pada awalnya niat kita menanam sebuah pohon adalah untuk diri sendiri, namun ketika kemudian pohon tersebut memberikan manfaat kepada yang lain, maka kita mendapatkan sebuah kebaikan sedekah di sisi Allah hingga akhir kiamat.

Dari Jabir bin Abdullah rodhiyallohu ‘anhu dia berkata, telah bersabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam:
Tidaklah seorang muslim menanam tanaman lalu tanaman itu dimakan manusia, binatang ataupun burung melainkan tanaman itu menjadi sedekah baginya sampai hari kiamat. ”

Subhanallah, Maha Suci Allah dengan Segala KebijaksanaanNya, maka marilah kita tidak melupakan untuk bersyukur atas segala rizki yang Allah limpahkan. Terlebih dalam bulan Ramadhan ini ketika mungkin di belahan bumi Allah yang lain saudara kita kesulitan memperoleh makanan, bersyukurlah kita ketika kita masih dikelilingi oleh makanan yang halal lagi baik.

Dari Anas rodhiyallohu ‘anhu dia berkata, telah bersabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah Ridha terhadap seseorang, yang apabila makan makanan, ia memuji kepada-Nya”.

Wallahu’alam bishshowab

Turki Sulit Mengelak Tren Berjilbab


REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA — Semarak berjilbab kalangan muslimah di seluruh dunia, turut berimbas ke Turki. Meski dibentengi paham sekularisme, Turki tidak bisa lagi mengelak.

Hasil survei yang dirilis Yayasan Studi Ekonomi dan Sosial yang berbasis di Istanbul, menyebutkan 60 persen perempuan Turki mengenakan jilbab. Fakta itu, menurut Yayasan tersebut, mengindikasikan muslimah Turki tidak lagi larut dalam paham sekularisme guna menunjukan identitas mereka sebagai muslim.

Pengamat Fesyen, Merve Buyuk mengatakan saat ini muslimah Turki tidak lagi menampilkan jilbab sebagai hal yang kaku. Mereka mulai memperhatikan sisi modis dalam berjilbab. “Mereka tidak lagi sebatas mengenakan jilbab berwarna hitam atau coklat polos saja. Perkembangan ini jelas menyenangkan,” kata dia seperti dikutip alarabiya.net, Rabu (2/5).

Merve mengatakan, perubahan itu juga diikuti dengan menjamurnya produk busana muslim di TUrki. Dengan demikian, kata Merve, muslimah Turki juga dapat menciptakan tren. “Akses muslimah terhadap produk Turki membuat mereka lebih dekat pada tren,” kata dia.

Pakar Komunikasi Universitas Galatasaray, Nilgun Tutal, mengatakan kondisi Turki saat ini memperlihatkan adanya proses adaptasi dari kelas menenangah dan atas Turki terhadap identitas keislamannya. Nantinya, adaptasi ini akan menjadikan Turki sebagai pihak yang mampu membedakan Islam dengan Barat.

“Untuk memperlihatkan perbedaan itu, dapat ditilik dari munculnya kelompok sosialita Muslim,” kata dia.

Editor majalah Ala, Hulya Aslan, mengatakan perubahan dalam tata cara muslimah Turki dalam berjilbab juga diimbangi dengan narasi media massa Turki untuk mengarahkan isu normalisasi penggunaan jilbab. “Bahkan dalam satu iklan dalam majalah kami, ada slogan berbunyi “Jilbab itu Indah” lalu diikuti dengan kalimat “Cara saya, pilihan saya, hidup saya, kebenaran saya dan hak saya,” kata dia.

Seperti diberitakan, penggunaan jilbab secara bebas mulai memasuki wilayah pendidikan. Melalui perjuangan yang cukup keras, mahasiswi muslim Turki bebas masuk ke perguruan tinggi dengan mengenakan jilbab.

Meski demikian, tantangan terhadap pengenaan jilbab secara bebas belumlah tuntas. Berulang kali, sejumlah pihak seperti lembaga peradilan Turki dan kejaksaan berupaya untuk melarang jilbab di pusat pendidikan lantaran dianggap bertentangan dengan doktrin sekularisme dan Undang-undang Dasar (UUD) Turki.
Redaktur: Heri Ruslan
Reporter: Agung Sasongko

Jumlah Muslim di AS Meningkat Tajam


REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK — Jumlah penduduk Muslim di Amerika Serikat meningkat tajam dalam satu dekade tarakhir. Jumlah umat Muslim di negeri Paman Sam itu mengalahkan jumlah warga Yahudi untuk kali pertama di sebagian besar Midwest dan bagian.

Dalam sebuah sensus agama di AS yang digelar Asosiasi Statistik dari Badan Keagamaan Amerika, Selasa (1/5) waktu setempat, imbas dari meroketnya populasi warga Muslim AS membuat gereja-gereja di AS kehilangan jamaahnya dan sering kosong saat kegiatan agama.

Umat Muslim di AS naik menjadi 2,6 juta orang pada 2010, bertambah dua kali lipat lebih dari satu juta orang pada 2000 lalu. “Kenaikan tersebut karena derasnya arus imigrasi dan jumlah penduduk yang menjadi mualaf,” kata Dale Jones, peneliti yang terlibat dalam sensus asosiasi statistik untuk badan-badan agama di Amerika (ASARB) itu.

Selain Muslim, jumlah pemeluk Mormon atau The Church of Jesus Christ of Latter-day Saints juga meningkat sebesar 45 persen, menjadi 6,1 persen pada 2010. “Di setiap negara bagian Kristen tetap menjadi kelompok agama yang paling tinggi di negeri itu. Tapi kami menemukan sejumlah hal menarik, yakni pertumbuhan pemeluk Mormon, yang tercatat di 26 negara bagian,” kata Jones dalam sebuah konfrensi di Chicago, AS.

Dalam sensus itu, para peneliti mendata jumlah pemeluk dari 236 agama di negeri adidaya tersebut. Anggota keluarga dari pemeluk agama juga termasuk dalam data yang dihitung. Secara umum 55 persen warga AS masih beribadah secara teratur. Meski demikian, sebagian besar survey yang pernah dilakukan menyebut sekitar 85 persen penduduk AS yang mengaku beragama, tidak beribadah secara teratur. Sementara 158 juta orang As mengaku tidak memeluk agama apa pun alias ateis.

Dari sejumlah agama besar, Katolik menjadi agama yang kehilangan pemeluk terbanyak, berkurang sebanyak lima persen menjadi 58,9 juta jiwa selama satu dekade terakhir.

“Katolik mengalami pengurangan jumlah pemeluk paling banyak,” ujar Jones sembari menyebut Maine, tempat terjadinya kasus pelecehan anak oleh pastor.

Di wilayah New England, upacara pemakaman pemeluk Katolik melebihi jumlah pemakaman pemeluk Kristen Baptis. Sedankan jumlah pemeluk Gereja Southern Baptist Convention mempunyai jumlah pemeluk yang stabil, yakni 19,9 juta jiwa selama satu dekade terakhir.

Gereja Metodist kehilangan pemeluk sebanyak empat persen menjadi 9,9 juta jiwa, Gereja Luteran Evangelis kehilangan 18 persen pemeluk menjadi 4,2 juta jiwa, dan Gereja Episkopal kehilangan 15 persen mejadi hanya 1,95 jiwa.

Meski pelan, pemeluk kongregasi-kongregasi protestan Evangelis terus bertumbuh, menjadi 50 juta pemeluk. Uniknya, peningkatan itu terjadi di daerah perkotaan dan hanya terdiri dari komunitas-komunitas yang terdiri dari hanya 100 orang.

Pemeluk Agama Budha juga meningkat drastis di negara-negara bagian di sekitar Rocky Montain, tempat jumlah kuil dan kongregasinya semakin meningkat. Jumlah pemeluk Budha di AS kini tercatat hampir satu juta jiwa.
Redaktur: Karta Raharja Ucu
Sumber: Reuters

Manusia Optimis Versus Manusia Pesimis


AMTC MUSLIMART
ORANG OPTIMIS BUKANLAH ORANG YANG KARENA MELIHAT JALAN MULUS DI HADAPANNYA, TETAPI ORANG YANG YAKIN 100% DAN BERANI UNTUK MENGATASI SETIAP TANTANGAN YANG MENGHADANG.
Ada 2 macam manusia dalam menyikapi hidup ini, satu sikap orang yang pesimis dan ke-dua adalah orang yang bersikap optimis.
Tipe pertama orang pesimis, bagi orang pesimis kehidupannya lebih banyak dikuasai oleh pikiran yang negatif, hidup penuh kebimbangan dan keraguan, tidak yakin pada kemampuan diri sendiri, kepercayaan dirinya mudah goyah dan mudah putus asa kalau menemui kesulitan atau kegagalan, selalu mencari alasan dengan menyalahkan keadaan dan orang lain sebagai proteksi untuk membenarkan dirinya sendiri, padahal di dalam dirinya dia tahu bahwa betapa rapuh mentalnya, orang pesimis lebih percaya bahwa sukses hanyalah karena kebetulan, keberuntungan atau nasib semata.
Tentu orang dengan sikap mental pesimis seperti ini, dia telah mengidap penyakit miskin mental, jika mental kita sudah miskin, maka tidak akan mampu menciptakan prestasi yang maksimal dan mana mungkin nasib jelek bisa dirubah menjadi lebih baik.
Tipe ke 2 adalah orang optimis, bagi orang yang memiliki sikap optimis, kehidupannya didominasi oleh pikirannya yang positif, berani mengambil resiko, setiap mengambil keputusan penuh dengan keyakinan dan kepercayaan diri yang mantap. orang optimis bukanlah karena melihat jalan mulus di hadapannya, tetapi orang yang mempunyai keyakinan 100% dalam melaksanakan apa yang harus diperjuangkan, orang optimis tahu dan sadar bahwa dalam setiap proses perjuangannya pasti akan menghadapi krikiil -krikil kecil ataupun bebatuan besar yang selalu menghadang!
Orang optimis siap dan berani untuk mengatasi masalah atau kesulitan yang merintanginya, Bahkan disaat mengalami kegagalan sekalipun tidak akan membuat dia patah semangat, karena dia tau ada proses pembelajaran disetiap kegagalan yang dia alami.
Tentu orang yang punya sikap mental optimis demikian adalah orang yang memiliki kekayaan mental. dan Hanya orang yang mempunyai kekayaan mental, yang mampu mengubah nasib jelek menjadi lebih baik.
Jika anda, saya dan kita semua secara bersama-sama mampu membangun kekayaan mental dengan berkesinambungan, mampu menjalani hidup ini dengan optimis dan aktif, tentu secara langsung akan berpengaruh pada kehidupan kita pribadi serta kehidupan keluarga, dan dari kehidupan keluarga -keluarga yang semangat, optimis dan aktif akan mempengaruhi kehidupan masyarakat secara luas, yang pada akhirnya akan menjadi kekuatan sinergi sebagai kontributor dalam membangun Indonesia sekaligus mengembalikan jati diri bangsa! Kalau bukan kita yang membangun Indonesia, lalu siapa?

Tanda-Tanda Hati yang Mati serta Obatnya


Persepsi tentang mati memang berbeda pada setiap orang. Ada yang merasa sudah mati ketika kehilangan kekasihnya. Ada yang merasa mati ketika ludes harta bendanya. Dan, ada yang menganggap hidupnya tak berarti saat dirundung kegagalan dan kedukaan akibat musibah.

Mati bukan hanya ketika seseorang telah mengembus kan napas terakhir, matanya terpejam, detak jantung terhenti, dan jasad tak bergerak. Itu semua hanya mati secara biologis.

Kematiannya masih bermanfaat karena menjadi pelajaran bagi yang hidup. Rasulullah SAW bersabda,

“Cukuplah kematian menjadi pelajaran, dan cukuplah keyakinan sebagai kekayaan.” (At-Thabrani dari Ammar RA)

Alangkah banyak manusia sudah mati, tapi masih memberikan manfaat bagi yang hidup, yakni masjid atau madrasah yang mereka bangun, buku yang mereka tulis, anak saleh yang ditinggalkan, dan ilmu bermanfaat yang telah diajarkan. Meraka mati jasad, tapi pahala terus hidup (QS.2 Al-Baqarah :154)

|

Sesungguhnya yang perlu diwaspadai adalah mati hakiki, yakni matinya hati pada orang yang masih hidup. Tak ada yang bisa diharapkan dari manusia yang hatinya telah mati.

Boleh jadi dia hanya menambah jumlah bilangan penduduk dalam sensus. Hanya ikut membuat macet jalanan dan mengurangi jatah hidup manusia lain. Itu pun kalau tak merugikan orang lain.

Bagaimana halnya dengan koruptor, orang yang merusak, dan menebar kejahatan di muka bumi?

Tanda manusia yang hatinya telah mati, antara lain, kurang berinteraksi dengan kebaikan, kurang kasih sayang kepada orang lain, mendahulukan dunia daripada akhirat, tak mengingkari kemungkaran, menuruti syahwat, lalai, dan senang berbuat maksiat.

|
3 hal yang bila kita tinggalkan
akan menyebabkan kematian hati
Pertama,

MENINGGALKAN SHALAT, itu akan membuat jiwa kalut. Kita akan terjerumus ke dalam perbuatan keji, terseret ke lembah kemungkaran dan kesesatan (QS.29 Al-Ankabut :45) dan (QS.19 Maryam :59), dan bisa menyusahkan serta merugikan orang lain.

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab [Al Qur’an] dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari [perbuatan-perbuatan] keji dan mungkar.

Dan sesungguhnya mengingat Allah [shalat] adalah lebih besar [keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain]. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS.29 Al-Ankabut :45)

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti [yang jelek] yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. (QS.19 Maryam :59)

Kedua,

MENINGGALKAN SEDEKAH, Itu berarti kita egois, individualis, dan enggan berbuat baik. Kepedulian sosial seperti sedekah adalah bukti keimanan.

Orang yang suka bersedekah hatinya lapang dan dijauhkan dari penyakit, khususnya kekikiran, sedangkan para dermawan selalu menebar kebajikan sehingga dekat dengan manusia, Allah, dan surga.
Ketiga,

MENINGGALKAN ZIKRULLAH, adalah awal kematian hati. Hatinya akan membatu sehingga tak bisa menerima nasihat dan ajaran agama. Zikir akan menimbulkan ketenangan hati (QS.13 Ar-Ra’d :28). Orang yang tenang hatinya akan berperilaku positif dan tak mau berbuat jahat.

Mukmin yang selalu shalat, senang bersedekah, dan memperbanyak zikrullah akan menjadi orang yang paling baik, memiliki hati yang hidup, dan menebar kebaikan kepada sesama. Bila kita merasa rajin shalat, sedekah, dan zikir, tetapi hatinya mati, kemungkinan besar shalat, sedekah, dan zikirnya cenderung formalitas tanpa jiwa.

[yaitu] orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingati Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS.13 Ar-Ra’d :28)

|

Sesungguhnya hati yang telah mati, mengeras, adalah hati yang tidak bisa memahami, dan mengambil nasehat-nasehat yang disampaikan kepadanya, yang berasal dari Al-Quran maupun As-Sunnah, yakni hadits Rosulullullah Shallallahu’alayhi Wa Sallam.

Hatinya tidak tergerak sedikitpun. Ya karena Allah telah mengunci hatinya disebabkan dosa-dosa yang terus-menerus dia perbuat di muka bumi ini. Allah Ta’ala berfirman:

Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus.
(QS. Al-Qiyaamah :75)

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. (QS. Al Muthoffifin: 14)

Rosulullah bersabda:

“Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititik kan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan.

Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya.Itulah yang diistilahkan “Ar-Raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.”

Mujahid berkata:

“Hati itu seperti telapak tangan. Awalnya ia dalam keadaan terbuka dan jika berbuat dosa, maka telapak tangan tersebut akan tergenggam. Jika berbuat dosa, maka jari-jemari perlahan-lahan akan menutup telapak tangan tersebut. Jika ia berbuat dosa lagi, maka jari lainnya akan menutup telapak tangan tadi. Akhirnya seluruh telapak tangan tadi tertutupi oleh jari jemari.”

Bukanlah disebabkan mereka itu tuli, dan bukan pula disebabkan oleh penglihatan yang rusak. Akan tetapi Ar-Raan telah menutupi hati, sehingga dia tidak mampu lagi untuk memahami syari’at-syari’at Allah. Allah Ta’ala berfirman:

maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (Qs. Al-Hajj: 46)

Akan tetapi kebutaan itu, kebutaan mata hati, sekalipun penglihatan dia luar biasa tajamnya, akan tetapi yang demikian itu tidak mampu untuk mengambil sebuah pelajaran, dan tidak mampu mengetahui apa yang terkandung di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Wallahul musta’an

Alangkah indahnya apa yang dikatakan seorang ahli syi’ir Muhammad ‘Abdullah bin Muhammad bin Hayyan al-Andalusi

Hai manusia yang mendengarkan seruan kecelakaan. Telah memanggilmu dua tanda kematian; Uban dan Kerentaan.

Jika engkau tak mau mendengar peringatan, apa saja yang engkau lihat dari kepalamu yang mempunyai dua pancaindra, Pendengaran dan Penglihatan.

Ibnu Abid Dun-ya berkata, Sebagian ahli hikmah berkata:

Hidupkanlah hatimu dengan berbagai nasehat,
Sinarilah dengan tafakkur,
Matikanlah dengan zuhud,
Kuatkanlah dengan keyakinan,
Hinakanlah dengan kematian,
Tetapkanlah dengan fana,
Pandanglah bencana dunia,
Waspadalah dengan permainan masa,
Berhati-hatilah dengan perubahan hari,
Tampilkanlah kepadanya kisah-kisah orang terdahulu,
Berjalanlah pada negeri-negeri peninggalan mereka,
Serta lihatlah apa yang mereka lakukan,
Dimana mereka berada dan karena apa mereka berubah.

Yaitu telitilah apa yang menimpa ummat-ummat yang mendustakan, berupa bencana dan kehancuran.

Saudaraku, hendaklah kita muhasabah diri, lihatlah diri kita, bagaimana kondisi kita ketika disampaikan ayat dan hadits kepada kita, apakah kita merasakan sesuatu yang bermanfaat darinya, ataukah kita tidak mampu merasakan apa-apa?

|
TANDA-TANDA HATI YANG MATI

“Tarkush sholah” Berani meninggalkan Sholat Fardhu,
“Adzdzanbu bil farhi” Tenang tanpa merasa berdosa padahal melakukan dosa besar.

Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran [daripadanya].
(QS.7 Al-Araf :3)

“Karhul Qur’an” Tdk mau membaca bahkan menjauih dg ayat2 Alqur’an,
“Hubbul ma’asyi” Terus menerus melakukan ma’siyat,
“Asikhru” Sibuknya hanya mempergunjing, buruk sangka, merasa dirinya lebih suci,
“Ghodbul ulamai” Sangat benci dengan nasehat baik & ulama,
“Qolbul hajari” Tidak ada rasa takut akan peringatan kematian, kuburan & akhirat,
“Himmatuhul bathni” Gilanya pada dunia tanpa peduli halal haram yang penting kaya,
“Anaaniyyun” sama sekali masa bodoh keadaan orang lain, saudara bahkan bisa jadi keluarganya sekalipun menderita,
“Al intiqoom” Pendendam hebat,
“Albukhlu” sangat pelit,
“Ghodhbaanun” cepat marah karena keangkuhan & dengki.

|
HIDUPKAN HATI DENGAN

Banyak dzikir,
Banyak baca kisah para shalihin terdahulu,
Kisah ibadah keshalihan bagaimana Islam diterapkan dizaman kenabian, para shahabat tabiin,
Merenung kejadian dalam kehidupan yang merupakan tanda keberadaan Allah SWT yang mutlak brada diatas smuanya,
Banyak nyebut “Laa ilaaha ilallaah”
Akrab dengan ilmu,
Penyampai ilmu Risalah Agama yang mulia ini,
Perbanyak do’a
Dekat dengan orang shalih dan lingkungan shalih bukan lingkungan salah, atau lingkungan maksiat,

|
Semoga allah melindungi dan merahmati Usaha Kita
Wallahua’lam BisShowaab

Tidak Ada Kata Terlambat Untuk Bertaubat


Oleh M. Arif As-Salman

Ada ketenangan yang terpancar di wajahnya. Memberi rasa tentram di hati bagi siapapun yang melihatnya. Ia tampak lebih teduh dan mudah tersenyum saat ini. Jauh berbeda dengan dulu, yang suka menampakkan wajah kusam, penuh masalah, dan terkadang cepat emosi.

Hal lain yang membuat hati saya merasa takjub dan kagum adalah, shalat lima waktu berjamaah tak pernah ia tinggalkan. Ia selalu datang ke mesjid sesaat setelah adzan dikumandangkan. Demi Allah, saya sangat bahagia melihat perubahan luar biasa ini!

Ia telah menjadi sosok yang mencintai mesjid, mencintai shalat tepat waktu berjamaah. Hati saya dipenuhi tanda tanya. Siapakah yang telah merubah hidupnya? Hal apakah yang telah memberi kesan mendalam pada hatinya dan memberi daya rubah yang luar biasa.

Dulu, saya suka mengajaknya untuk ikut shalat berjamaah di mesjid yang tak jauh dari tempat tinggal kami. Tidak hanya sekali, namun berulang kali saya tak pernah bosan mengajaknya shalat di rumah Allah. Saat itu, ia sangat acuh, terlihat angkuh dan tak memperdulikan. Ia selalu berdalih dengan berbagai alasan. Saya sedih belum bisa menjadi sebab dirinya mendapat hidayah Allah. Tapi, saya tidak bisa memaksakan, saya hanya berusaha dengan semampu yang saya lakukan, ketentuannya ada di tangan Allah.

Saya semakin sibuk dengan usaha yang tengah saya kelola, sehingga saya sudah jarang lagi bertemu dengannya. Untuk urusan bisnis dengannya, saya tidak lagi terlibat banyak. Walau istri saya tak pernah bosan mengingatkan saya, agar setiap kali bertemu dengannya, saya mengajaknya untuk berjamaah di mesjid. Namun, karena berbagai kesibukan saya yang cukup padat, hal itu hampir tak sempat saya lakukan.

Hingga saat ini, dia telah betul-betul berubah. Sungguh perubahan yang luar biasa dan menakjubkan! Tiba-tiba rasa sedih menyesak di dada saya, saya merasa gagal dalam ‘perdagangan’ dengan Allah, saya tidak bisa menjadi sebab dapatnya seseorang hidayah dari Allah. Saya selalu bertanya-tanya, siapakah orang yang beruntung itu? Yang telah menjadi sebab dapat hidayahnya teman saya tersebut? Tentu, pahala kebaikan yang dilakukan teman Mesir saya tersebut akan terus mengalir dalam lembaran kebaikannya.

Saya tak dapat lagi menahan gejolak rasa penasaran, bahagia dan sedih di dada. Saya temui teman Mesir saya itu. Saya tanyakan padanya, siapakah yang telah membuat dirimu mengalami perubahan seperti ini?

Ia menjawab, “Allah.., Allah lah yang memberi saya petunjuk. Allah yang telah memasukkan cahaya hidayah ke dalam hati saya. Segala puji hanya milik Allah.”

Saya sungguh bahagia mendengar kata-kata penuh tulus itu. Saya tatap ia dengan penuh cinta, lalu saya ucapkan, “Alhamdulillah, semoga Allah selalu menjagamu dalam pelukan hidayah-Nya, amin.”

Ia melanjutkan, “Akhi, saya sangat menyesal, saat dulu akhi mengajak saya shalat di mesjid, saya saat itu selalu acuh, tidak peduli, dan sombong. Saya menangis setiap kali mengingat hal itu. Saya memohon ampun pada Allah atas segala dosa dan khilaf saya di masa lalu.Akhi, hidup di dunia hanya sesaat, hanya sebentar dan persinggahan saja. Kelak kita semua akan dihisab dihadapan-Nya. Apalah yang dapat kita banggakan dari hidup ini, kalau bukan iman dan amal saleh kita. Saya takut dengan siksa neraka, sungguh saya tak kuat dengan azab-Nya. Alhamdulillah, saat ini saya berusaha menjaga shalat lima waktu di mesjid, saya berusaha untuk shalat malam, yang dulu hampir tak pernah saya lakukan, saya berusaha untuk puasa sunah senin dan kamis, saya ingin terus berusaha menjadi hamba terbaik dihadapan-Nya.”

“Akhi, istiqamah lah, teruslah berbuat yang terbaik, semoga Allah selalu mencurahkan rahmat dan kasih sayang-Nya padamu, amin.” ucap saya padanya.

Hari semakin larut malam, saya harus segera pulang ke rumah. Dengan agak tergegas saya meminta izin darinya. Sungguh, saya belum puas dengan penjelasannya, esok saya berniat untuk kembali menemuinya, untuk memenuhi rasa penasaran yang masih menyisa di hati.

Renungan Untuk Yang Gemar Merayakan Ulang Tahun


Oleh Adi Victoria

Lama saya tertegun. Memikirkan orang-orang yang selalu merayakan hari kelahirannya. Mengundang banyak orang untuk hadir, bersantap makanan hingga games-games untuk meriahkan suasana. Sorak tawa kegembiraan terpancar dari yang berulang tahun. Ucapan selamat serta do’a semoga panjang umur khususnya di ucapkan oleh yang hadir.

Yang semakin membuat saya semakin miris adalah tatkala mendengar kabar bahwa biasanya setiap perayaan ulang tahun biasanya juga di hidangkan mie goreng special untuk ulang tahun yang biasa disebut sebagai mie goreng ulang tahun. Mie goreng tersebut disajikan dengan member makna dan harapan agar kelak umur semakin panjang, rezeki semakin mengalir layaknya mie goreng tersebut. Sebagaiman tradisi sebagian masyarakat tionghoa yang selalu menyajikan Mie Ulang Tahun sebagai hidangan wajib bagi setiap perayaan tersebut.

Padahal umur dalam hal ini kematian adalah hal yang pasti, tidak bisa dimajukan dan tidak bisa dimundurkan.

Allah swt berfirman : “Tidak ada suatu umat pun yang dapat mendahului ajalnya dan tidak pula dapat memundurkannya (TQS al-Hijr [15]: 5; al-Mu’minun [23]: 43)

Memang, ada sabda Nabi saw. sebagai berikut:
Siapa saja yang suka dilapangkan rezekinya dan ditambah umurnya hendaklah ia bersilaturahmi (HR al-Bukhari, Muslim, Abu dan Ahmad).

Juga ada beberapa hadis semisalnya. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan pertambahan umur bukanlah penundaan ajal. Yang bertambah tidak lain adalah keberkahan umurnya dalam ketaatan kepada Allah. Bisa juga maknanya adalah bukan pertambahan umur biologis, tetapi umur sosiologis, yakni peninggalan, jejak atau atsar al-‘umri-nya yang terus mendatangkan manfaat dan pahala setelah kematian biologisnya. Abu Darda menuturkan bahwa Rasul saw. pernah bersabda:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengakhirkan (kematian) seseorang jika telah datang ajalnya. Sesungguhnya bertambahnya umur itu dengan keturunan salih yang Allah karuniakan kepada seorang hamba, lalu mereka mendoakannya sesudah kematiannya sehingga doa mereka menyusulinya di kuburnya. Itulah pertambahan umur (HR Ibn Abi Hatim dikutip oleh al-Hafizh Ibn Katsir di dalam tafsirnya QS Fathir: 11).

Selain anak salih, hadis lain menyatakan bahwa ilmu yang bermanfaat, sedekah jariah dan sunnah hasanah juga akan memperpanjang umur sosiologis seseorang. Pelakunya, meski telah mati secara biologis, seakan ia tetap hidup dan beramal dengan semua itu serta mendapat pahala karenanya.

Maka sangat aneh jika ada seorang muslim merayakan ulang tahun dan mengharapkan agar umur nya menjadi panjang. Padahal dia seharusnya bersedih, karena jatah umur nya berkurang.
Ya, itulah salah satu pengaruh dari pola fikir sebagian masyarakat kita. Perayaan tersebut seolah telah menjadi tradisi yang tidak boleh ditinggalkan.

Bahkan saya pernah tahu ada sebuah keluarga yang selalu merayakan perayaan ulang tahun tersebut baik bagi yang baru berumur satu tahun hingga yang telah berumur (baca = uzur) sekalipun. Seakan haram hukum nya jika tidak dikerjakan.
Kelahiran seorang manusia sebetulnya merupakan perkara yang biasa saja. Bagaimana tidak? Setiap hari, setiap jam, bahkan setiap menit dunia ini tidak henti-hentinya menyambut kelahiran bayi-bayi manusia yang baru. Karena perkara yang biasa-biasa saja, tidak terasa bahwa dunia ini telah dihuni lebih dari 6 miliar jiwa.
Karena itulah, barangkali, Nabi kita, Rasulullah Muhammad Saw tidak menjadikan hari kelahirannya sebagai hari yang istimewa, atau sebagai hari yang setiap tahunnya harus diperingati. Keluarga beliau, baik pada masa Jahiliah maupun pada masa Islam, juga tidak pernah memperingatinya, padahal beliau adalah orang yang sangat dicintai oleh keluarganya. Mengapa? Sebab, dalam tradisi masyarakat Arab, baik pada zaman Jahiliah maupun zaman Islam, peringatan atas hari kelahiran seseorang tidak pernah dikenal.

Pandangan Islam Terhadap Ulang Tahun

Memang, tidak ada satu pun nash baik dari al qur’an dan al hadist yang menyatakan bahwa merayakan ulang tahun itu adalah haram. Namun pula sebaliknya, tidak ada juga dalil yang menyatakan kebolehan tersebut.

Disinilah pentingnya dilakukan kajian yang cermat terhadap fakta perayaan ulang tahun itu sendiri. Kalau kita cermati secara seksama, perayaan ulang tahun adalah buah dari kebudayaan barat yang di bawa ke negeri-negeri Islam oleh para penjajah. Ini tatkala negeri-negeri Islam di pecah belah menjadi lebih dari 57 negara pasca di runtuhnya khilafah Islam pada tanggal 03 maret 1924 silam.

Sejak saat itu umat Islam mengalami kemerosotan di segala bidang, baik dari ekonomi, hukum, politik, social budaya.
Dan perayaan ulang tahun hanya satu diantara sekian banyaknya kebudayaan asing yang di bawa masuk ke dalam negeri-negeri Islam tersebut.

Maka jelas bahwa perayaan ulang tahun merupakan aktivitas yang bertasyabuh dengan orang-orang kafir. Memang tidak semua tasyabuh itu haram, karena memang ada batasan-batasannya. Namun untuk perayaan ulang tahun jelas merupakan tasyabuh yang bertentangan dengan Islam.

Batasan tasyabbuh adalah seseorang melakukan tasyabbuh (penyerupaan) terhadap apa yang menjadi ciri khas objek yang diserupai. Tasyabbuh terhadap orang-orang kafir maknanya adalah seorang muslim yang melakukan sesuatu hal dari kekhususan mereka. Adapun sesuatu yang telah umum tersebar di kaum muslimin dimana hal itu tidak membedakannya dengan orang-orang kafir, maka tidak termasuk tasyabbuh. Bukan pula termasuk sesuatu yang diharamkan dari sisi tasyabbuh-nya itu, kecuali jika sesuatu itu diharamkan dari sisi yang lain. Dan sebagaimana yang kita sudah fahami bersama bahwa perayaan ulang tahun adalah sesuatu yang khas bagi mereka.

Maka dalam hal ini, Rasulullah saw mengingatkan kepada kita semua akan sabda nya :

Tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir adalah haram meskipun tidak mempunyai maksud seperti mereka, dengan dalil hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Barangsiapa yang tasyabbuh dengan satu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud didalam Sunannya dan lainnya)

Hadits ini menetapkan berbagai hal tentang dilarangnya menyerupai orang-orang kafir.

‘Amr bin Syu’aib telah meriwayatkan dari bapaknya dari kakeknya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Bukan termasuk golongan kami orang yang menyerupai kaum selain kami. Jangan kalian menyerupai yahudi dan nashrani.”

Ganti Merayakan Dengan Muhasabah Diri

Kalau kita sudah sadar bahwa umur semakin berkurang sehingga tidak ada yang pantas dirayakan,maka sebaiknya kita melakukan muhasabah diri.

Muhasabah diri memang tidak harus setahun sekali, tidak pula 6 bulan sekali, atau satu bulan sekali, karena seharusnya setiap hari kita bisa bermuhasabah diri kita, sejak bangun dari tempat tidur hingga kembali ke tempat tidur, kita bisa menghisab diri kita sendiri, selama perputaran waktu 24 jam, berapa jam yang kita habiskan untuk tidur, bekerja, nonton TV, bercanda dengan keluarga, kerabat, teman, sahabat, rekan kerja bahkan terhadap orang baru di kenal, berapa jam yang kita habiskan untuk melakukan hal-hal yang tidak berguna, dan berapa jam yang tersisa untuk kita beribadah kepada Allah.

Kalau sekarang umur kita 25 tahun, maka anggap saja kita hidup sampai umur 65 tahun, maka masih ada sisa 40 tahun.
Saya tertarik ketika membaca sebuah artikel renungan hidup pada sebuah artikel cetak. Disana sang penulis menceritakan bagaimana ia terdiam dan tertunduk hingga menangis tatkala sahabat nya memberikan nasehat untuk menjalani sisa kehidupan selama berada di dunia ini.

Teman nya tersebut berkata :

“Andai jatah hidup kita di dunia ini 60 tahun, dengan usia kita saat ini 38 tahun, berarti sisa hidup kita tinggal 22 tahun lagi. Andai jatah hidup kita di dunia ini 50 tahun, berarti sisa hidup kita tinggal 12 tahun lagi. Andai jatah hidup kita di dunia ini 40 tahun, berarti sisa hidup kita tinggal 2 tahun lagi. Bagaimana jika jatah umur kita sudah habis dan besok atau lusa Malaikat Ijrail mencabut nyawa kita? Duh! Betapa singkatnya hidup 38 tahun. Jika demikian, betapa tidak akan terasa menjalani sisa hidup yang lebih pendek lagi; 22 tahun, 12 tahun, 2 tahun, atau malah cuma dua hari lagi…”

Ia lalu melanjutkan:

Andai selama 38 tahun itu kita tidur selama delapan jam perhari, berarti sepertiga hidup kita hanya dipakai untuk tidur, yakni sekitar 12,7 tahun. Andai sisa waktu kita perhari yang tinggal 16 jam itu kita pakai 4 jam untuk nonton tivi, ngobrol ngalor-ngidul, santai, dan melakukan hal-hal yang tak berguna, berarti sisa waktu kita perhari tinggal 12 jam. Sebab, yang 12 jamnya dipakai untuk tidur dan melakukan hal-hal tadi. Dua belas jam berarti setengah hari. Jika ia dikalikan 38 tahun, berarti 19 tahun (separuh umur kita) hanya kita pakai untuk tidur dan melakukan hal-hal yang tak berguna.

Ia pun bertutur lagi:

Dalam usia 38 tahun itu, kita, misalkan, baru mulai bekerja efektif pada usia 25 tahun. Berarti kita bekerja sudah 13 tahun. Jika rata-rata kita bekerja 8 jam perhari, berarti kita telah menghabiskan waktu kita untuk bekerja 1/3×13 tahun=3,9 tahun. Artinya, dari 38 tahun itu kita menghabiskan total kira-kira 22,9 tahun hanya untuk tidur dan bekerja mencari dunia; termasuk nonton tivi, ngobrol ngalor-ngidul, santai, dan mungkin melakukan hal-hal tak berguna.
Mari kita bandingkan dengan aktivitas ibadah kita, juga dakwah kita. Andai shalat kita yang lima waktu, ditambah shalat-shalat sunnah, memakan waktu total hanya 1,5 jam perhari, berarti kita hanya menghabiskan 547 jam pertahun untuk shalat. Itu berarti hanya sekitar 23 hari pertahun. Andai kita baru benar-benar menunaikan shalat umur 15 tahun (saat mulai balig), berarti kita baru menghabiskan sekitar 414 hari (=23×18 [38-15]) untuk shalat. Artinya, selama 38 tahun, kita menunaikan shalat hanya 1 tahun 49 hari!

Sang penulis kemudian menyela teman nya tadi dan berkata“Bekerja kan termasuk ibadah juga.”

Namun, segera temannya mengajukan pertanyaan retoris kepada dia:

Baik. Sekarang bagaimana jika semua itu ternyata tidak bernilai di sisi Allah? Bagaimana jika amal-amal kita ternyata tidak diterima oleh Allah? Bagaimana jika shalat kita yang jarang sekali khusyuk itu ditolak oleh Allah? Bagaimana pula jika dakwah kita pun—yang mungkin kadang bercampur dengan riya dan tak jarang minimalis—tak dipandang oleh Allah?

Betul. Kita tidak boleh pesimis. Kita harus penuh harap kepada Allah, semoga semua amal-amal kita Dia terima. Namun, kita pun sepantasnya khawatir jika semua amal yang selama ini kita anggap amal shalih dan bernilai pahala, ternyata sebagian besarnya tidak bernilai apa-apa di sisi Allah. Na’udzu billâh. Kita memang tidak berharap seperti itu.

Di sisi lain, setiap hari, puluhan kali kita bermaksiat. Kalikan saja, misalkan, dengan 23 tahun usia kita (38 tahun dikurangi masa kanak-kanak prabalig).

Ya,itulah yang bisa kita jadikan renungan akan kehidupan kita. Pandai-pandailah kita untuk menghisab diri kita sebelum kelak kita di hisab oleh Allah swt di yaumil Hisab.

Dari Syadad bin Aus r.a., dari Rasulullah saw., bahwa beliau berkata,

“Orang yang cerdas adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah swt. (HR. Imam Turmudzi, ia berkata, ‘Hadits ini adalah hadits hasan’)

Siapa ingin selamat dari kehinaan dan pertanyaan (hisab) pada hari qiyamat, ia harus menghisab dirinya didunia sebelum dihisab diakhirat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Alloh, Sesungguhnya Alloh Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan”. (QS. Al Hasyr [59]: 18)

Umar bin Khoththob rohh memahami makna ayat diatas dengan mendalam. Ia berkata kepada rakyatnya: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah menghadapi hari qiyamat”. (lihat, Tarikhu Umar: 201)

Oleh karena itu, mari jadikan setiap waktu yang kita lalui, setiap tahun, bulan, minggu, hari, bahkan per detik untuk selalu mawas diri, menghitun-hitung berapa banyak amal shalih yang kita kerjakan berbanding dengan berapa banyak amal salah yang kita lakukan. Bukan malah bersorak ria dengan perayaan ulang tahun yang tidak bermakna, bahkan hakikatnya memang tidak layak untuk dirayakan Wallahu A’lam bishowab.

Jangan Galau, Allah Bersama Kita! Inilah 4 Ayat Anti Galau!


Oleh: Zakariya Hidayatullah
Mahasiswa STID Muhammad Natsir

Zaman sekarang berbagai masalah makin kompleks. Entah itu komplikasi dari masalah keluarga yang tak kunjung selesai, masalah hutang yang belum terbayar, bingung karena ditinggal pergi oleh sang kekasih, ataupun masalah-masalah lain. Semuanya bisa membuat jiwa seseorang jadi kosong, lemah atau merana.

“Galau!!” merupakan sebuah kata-kata yang sedang naik daun, di mana kata-kata itu menandakan seseorang tengah dilanda rasa kegelisahan, kecemasan, serta kesedihan pada jiwanya. Tak hanya laku di facebook atau twitter saja, bahkan di media televisi pun orang-orang seakan-akan dicekoki dengan kata-kata “galau” tersebut.

Pada dasarnya, manusia adalah sesosok makhluk yang paling sering dilanda kecemasan. Ketika seseorang dihadapkan pada suatu masalah, sedangkan dirinya belum atau tidak siap dalam menghadapinya, tentu jiwa dan pikirannya akan menjadi guncang dan perkara tersebut sudahlah menjadi fitrah bagi setiap insan.

…Jangankan kita manusia biasa, bahkan Rasulullah pun pernah mengalami keadaan keadaan galau pada tahun ke-10 masa kenabiannya…

Jangankan kita sebagai manusia biasa, bahkan Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam pun pernah mengalami keadaan tersebut pada tahun ke-10 masa kenabiannya. Pada masa yang masyhur dengan ‘amul huzni (tahun duka cita) itu, beliau ditinggal wafat oleh pamannya, Abu Thalib, kemudian dua bulan disusul dengan wafatnya istri yang sangat beliau sayangi, Khadijah bintu Khuwailid.

Sahabat Abu Bakar, ketika sedang perjalanan hijrah bersama Rasulullah pun di saat berada di dalam gua Tsur merasa sangat cemas dan khawatir dari kejaran kaum Musyrikin dalam perburuan mereka terhadap Rasulullah. Hingga turunlah surat At-Taubah ayat 40 yang menjadi penenang mereka berdua dari rasa kegalauan dan kesedihan yang berada pada jiwa dan pikiran mereka.

Jangan Galau, Innallaha Ma’ana!

Allah Ta’ala berfirman, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kami” (QS. At Taubah: 40)

Ayat di atas mungkin dapat menjadikan kita agar lebih merenungi lagi terhadap setiap masalah apapun yang kita hadapi. Dalam setiap persoalan yang tak kunjung terselesaikan, maka hadapkanlah semua itu kepada Allah Ta’ala. Tak ada satupun manusia yang tak luput dari rasa sedih, tinggal bagaimana kita menghadapi kesedihan dan kegalauan tersebut.

…Allah telah memberikan solusi kepada manusia untuk mengatasi rasa galau yang sedang menghampiri jiwa…

Adakalanya, seseorang berada pada saat-saat yang menyenangkan, tetapi, ada pula kita akan berada pada posisi yang tidak kita harapkan. Semua itu sudah menjdai takdir yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk makhluk-makhluk Nya.

Tetapi, Allah Ta’ala juga telah memberikan solusi-solusi kepada manusia tentang bagaimana cara mengatasi rasa galau atau rasa sedih yang sedang menghampiri jiwa. Karena dengan stabilnya jiwa, tentu setiap orang akan mampu bergerak dalam perkara-perkara positif, sehingga dapat membuat langkah-langkahnya menjadi lebih bermanfaat, terutama bagi dirinya lalu untuk orang lain.

Berikut ini adalah kunci dalam mengatasi rasa galau;

1. Sabar

Hal pertama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ketika menghadapi cobaan yang tiada henti adalah dengan meneguhkan jiwa dalam bingkai kesabaran. Karena dengan kesabaran itulah seseorang akan lebih bisa menghadapi setiap masalah berat yang mendatanginya.

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (Qs. Al-Baqarah 153).

Selain menenangkan jiwa, sabar juga dapat menstabilkan kacaunya akal pikiran akibat beratnya beban yang dihadapi.

2. Adukanlah semua itu kepada Allah

Ketika seseorang menghadapi persoalan yang sangat berat, maka sudah pasti akan mencari sesuatu yang dapat dijadikan tempat mengadu dan mencurahkan isi hati yang telah menjadi beban baginya selama ini. Allah sudah mengingatkan hamba-Nya di dalam ayat yang dibaca setiap muslim minimal 17 kali dalam sehari:

“Hanya kepada-Mulah kami menyembah, dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan” (QS. Al Fatihah 5).

…ketika keluhan itu diadukan kepada Sang Maha Pencipta, maka akan meringankan beban berat yang kita derita…

Mengingat bahwa manusia adalah makhluk yang banyak sekali dalam mengeluh, tentu ketika keluhan itu diadukan kepada Sang Maha Pencipta, maka semua itu akan meringankan beban berat yang selama ini kita derita.

Rasulullah shalallahi alaihi wasallam ketika menghadapi berbagai persoalan pun, maka hal yang akan beliau lakukan adalah mengadu ujian tersebut kepada Allah Ta’ala. Karena hanya Allah lah tempat bergantung bagi setiap makhluk.

3. Positive thinking

Positive thinking atau berpikir positif, perkara tersebut sangatlah membantu manusia dalam mengatasi rasa galau yang sedang menghinggapinya. Karena dengan berpikir positif, maka segala bentuk-bentuk kesukaran dan beban yang ada pada dalam diri menjadi terobati karena adanya sikap bahwa segala yang kesusahan-kesusahan yang dihadapi, pastilah mempunyai jalan yang lebih baik yang sudah ditetapkan oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya;

“Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Qs Al-Insyirah 5-6).

4. Dzikrullah (Mengingat Allah)

Orang yang senantiasa mengingat Allah Ta’ala dalam segala hal yang dikerjakan. Tentunya akan menjadikan nilai positif bagi dirinya, terutama dalam jiwanya. Karena dengan mengingat Allah segala persoalan yang dihadapi, maka jiwa akan menghadapinya lebih tenang. Sehingga rasa galau yang ada dalam diri bisa perlahan-perlahan dihilangkan. Dan sudah merupakan janji Allah Ta’ala, bagi siapa saja yang mengingatnya, maka didalam hatinya pastilah terisi dengan ketenteraman-ketenteraman yang tidak bisa didapatkan melainkan hanya dengan mengingat-Nya.

…Bersabar, berpikir positif, ingat Allah dan mengadukan semua persoalan kepada-Nya adalah solusi segala persoalan…

Sebagaimana firman-Nya:

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram” (Qs Ar-Ra’du 28).

Berbeda dengan orang-orang yang lalai kepada Allah, yang di mana jiwa-jiwa mereka hanya terisi dengan rasa kegelisahan, galau, serta kecemasan semata. Tanpa ada sama sekali yang bisa menenangkan jiwa-Nya.

Tentunya, sesudah mengetahui tentang faktor-faktor yang dapat mengatasi persoalan galau, maka jadilah orang yang selalu dekat kepada Allah Ta’ala. Bersabar, berpikir positif, mengingat Allah, serta mengadukan semua persoalan kepada-Nya merupakan kunci dari segala persoalan yang sedang dihadapi. Maka dari itu, Janganlah galau, karena sesungguhnya Allah bersama kita. [voa-islam.com]

TIDAK ADA JALAN YANG RATA UNTUK SUKSES


AMTC MUSLIMART
Di pagi hari buta, terlihat seorang pemuda dengan bungkusan kain berisi bekal di punggungnya tengah berjalan dengan tujuan mendaki ke puncak gunung yang terkenal.
Konon kabarnya, di puncak gunung itu terdapat pemandangan indah layaknya berada di surga. Sesampai di lereng gunung, terlihat sebuah rumah kecil yang dihuni oleh seorang kakek tua.
Setelah menyapa pemilik rumah, pemuda mengutarakan maksudnya “Kek, saya ingin mendaki gunung ini. Tolong kek, tunjukkan jalan yang paling mudah untuk mencapai ke puncak gunung”.
Si kakek dengan enggan mengangkat tangan dan menunjukkan tiga jari ke hadapan pemuda.
“Ada 3 jalan menuju puncak, kamu bisa memilih sebelah kiri, tengah atau sebelah kanan?”
“Kalau saya memilih sebelah kiri?”
“Sebelah kiri melewati banyak bebatuan.” Setelah berpamitan dan mengucap terima kasih, si pemuda bergegas melanjutkan perjalanannya. Beberapa jam kemudian dengan peluh bercucuran, si pemuda terlihat kembali di depan pintu rumah si kakek.
“Kek, saya tidak sanggup melewati terjalnya batu-batuan. Jalan sebelah mana lagi yang harus aku lewati kek?”
Si kakek dengan tersenyum mengangkat lagi 3 jari tangannya menjawab, “Pilihlah sendiri, kiri, tengah atau sebelah kanan?”
“Jika aku memilih jalan sebelah kanan?”
“Sebelah kanan banyak semak berduri.” Setelah beristirahat sejenak, si pemuda berangkat kembali mendaki. Selang beberapa jam kemudian, dia kembali lagi ke rumah si kakek.
Dengan kelelahan si pemuda berkata, “Kek, aku sungguh-sungguh ingin mencapai puncak gunung. Jalan sebelah kanan dan kiri telah aku tempuh, rasanya aku tetap berputar-putar di tempat yang sama sehingga aku tidak berhasil mendaki ke tempat yang lebih tinggi dan harus kembali kemari tanpa hasil yang kuinginkan, tolong kek tunjukkan jalan lain yang rata dan lebih mudah agar aku berhasil mendaki hingga ke puncak gunung.”
Si kakek serius mendengarkan keluhan si pemuda, sambil menatap tajam dia berkata tegas “Anak muda! Jika kamu ingin sampai ke puncak gunung, tidak ada jalan yang rata dan mudah! Rintangan berupa bebatuan dan semak berduri, harus kamu lewati, bahkan kadang jalan buntu pun harus kamu hadapi. Selama keinginanmu untuk mencapai puncak itu tetap tidak goyah, hadapi semua rintangan! Hadapi semua tantangan yang ada! Jalani langkahmu setapak demi setapak, kamu pasti akan berhasil mencapai puncak gunung itu seperti yang kamu inginkan! dan nikmatilah pemandangan yang luar biasa !!! Apakah kamu mengerti?”
Dengan takjub si pemuda mendengar semua ucapan kakek, sambil tersenyum gembira dia menjawab “Saya mengerti kek, saya mengerti! Terima kasih kek! Saya siap menghadapi selangkah demi selangkah setiap rintangan dan tantangan yang ada! Tekad saya makin mantap untuk mendaki lagi sampai mencapai puncak gunung ini.
Dengan senyum puas si kakek berkata, “Anak muda, Aku percaya kamu pasti bisa mencapai puncak gunung itu! Selamat berjuang!!!
Tidak ada jalan yang rata untuk sukses!
Sama seperti analogi Proses pencapaian mendaki gunung tadi. Untuk meraih sukses seperti yang kita inginkan, Tidak ada jalan rata! tidak ada jalan pintas! Sewaktu-waktu, rintangan, kesulitan dan kegagalan selalu datang menghadang. Kalau mental kita lemah, takut tantangan , tidak yakin pada diri sendiri, maka apa yang kita inginkan pasti akan kandas ditengah jalan.
Hanya dengan mental dan tekad yang kuat, mempunyai komitmen untuk tetap berjuang, barulah kita bisa menapak di puncak kesuksesan.

Memposisikan dan Mendobrak Diri


AMTC MUSLIMART
Pada kesempatan kali ini, saya ingin membahas pentingnya memposisikan diri dan mendobrak diri. Setelah kita bisa mengenali kekuatan dan kelemahan diri dengan tepat, tugas kita berikutnya adalah memposisikan diri. Artinya, hasil analisis diri sebelumnya kita gunakan untuk menempatkan diri kita pada peranan yang tepat.
Jika kita merupakan tipe pekerja keras, menyukai karier kerja, dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan di dunia kerja, maka fokus usaha harus kita arahkan pada jenis pekerjaan yang cocok. Setelah berhasil menentukan peran, kita harus berani menetapkan target tertentu serta bertekad bulat untuk mencapainya.
Misalnya, tipe kita adalah wirausahawan. Maka tentu saja kita akan kesulitan dan tidak betah menjadi pekerja atau karyawan. Pilihan harus diambil supaya kita tidak terpenjara dalam dunia kerja, yang sudah pasti tidak mampu menampung luapan kreativitas dan semangat kewirausahaan kita. Tahap memposisikan diri adalah tahapan paling krusial. Ini menentukan apakah kita berada pada arah yang benar dan jalan yang benar. Seberapa pun kerasnya usaha kita, jika petanya—arah dan tujuannya—itu salah, kita tidak akan pernah sampai ke tempat tujuan.
Setelah berhasil memposisikan diri, langkah berikutnya adalah mendobrak diri. Artinya, setelah memiliki peta, menetapkan target, dan memiliki tekad, kita harus cepat bertindak atau berproses. Semakin lama kita menunda, semakin hilang kekuatan dari peta, target, dan kebulatan tekad tadi. Ribuan kilo perjalanan harus diawali dengan langkah pertama. Mengambil langkah pertama berarti siap mengambil risiko. Baik itu risiko kesuksesan maupun risiko kegagalan. Ini butuh keberanian yang besar, butuh komitmen yang kuat. Ini berarti mendobrak diri dari rasa takut, rasa bimbang, dan hanya fokus pada tujuan akhir.
Dan yang tidak kalah pentingnya dalam tahap mendobrak diri ini adalah kemampuan belajar. Artinya, setiap risiko gagal maupun berhasil, keduanya mengandung bahan pelajaran. Jika pikiran kita buka selebar-lebarnya, kesulitan, rintangan, dan kegagalan bisa kita ambil hikmah dan pelajarannya. Demikian pula keberhasilan bisa kita ambil hikmah dan pelajarannya. Keduanya memberi kita wawasan dan pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu secara lebih baik, efektif, dan efisien.

Manfaat, Khasiat Daun Sirih


Daun sirih sejenis tanaman merambat, kalau dikampung-kampung (mungkin dikota juga masih ada) sering banget dimakan dan dikunyah. Biasanya daun sirih ini dikunyah bersama gambir, pinang dan kapur. Jadi ingat waktu dikampung dulu, nenek sering banget ngunyah itu. Malah kadang daun sirih ini dulu sering dibuat obat, untuk sakit mata biasanya dan kekuatan gigi.

Daun sirih sebagai tanaman asli Indonesia biasanya tumbuh merambat, tapi lebih sering bersandar pada batang pohon. Sebenarnya daun sirih ini memiliki banyak sekali manfaat dan khasiat. Terutama manfaatnya untuk kesehatan dan kecantikan. Beberapa kandungan yang terdapat pada minyak atsiri yang dihasilkan oleh daun sirih adalah minyak terbang (betIephenol), seskuiterpen, pati, diatase, gula dan zat samak dan kavikol yang memiliki daya mematikan kuman, antioksidasi dan fungisida, anti jamur.

Manfaat dan Khasiat Daun Sirih

Dulu waktu dikampung daun sirih ini memiliki banyak khasiat, dan mungkin sudah umum juga sih. Beberapa khasiat daun sirih yang saya ketahui adalah untuk menghilangkan bau badan, mengurangi / menghentikan pendarahan, membantu penyembuhan luka di kulit dan gangguan saluran pencernaan.

Dan beberapa manfaat daun sirih lainnya yang saya baca dari beberapa sumber adalah bersifat mengerutkan, mengeluarkan dahak, meluruhkan ludah, hemostatik, dan menghentikan perdarahan. Biasanya untuk obat hidung berdarah, dipakai 2 lembar daun segar Piper betle, dicuci, digulung kemudian dimasukkan ke dalam lubang hidung. Selain itu, kandungan bahan aktif fenol dan kavikol daun sirih hutan juga dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati untuk mengendalikan hama penghisap.

Manfaat dan Khasiat Daun Sirih sebenarnya banyak sekali. Seperti misalnya manfaat daun sirih merah sebagai ramuan atau terapi bagi penderita yang tidak dapat disembuhkan dengan obat kimia. Khasiat daun sirih merah ini digunakan untuk mengurangi keputihan dan menjaga organ kewanitaan karena salah satu khasiat dari sirih merah adalah sebagai antiseptik, yaitu dengan merebus 7-10 lembar daun sirih merah, lalu menggunakan air rebusan tersebut untuk membilas organ kewanitaan. Dan khasiat lainnya seperti obat tradisional untuk mengatasi penyakit seperti kencing manis, kanker, asam urat, hepatitis, kelelahan dan maag, peradangan, hipertensi (darah tinggi), dan ambien.

Kegunaan Daun Sirih:
– Batuk
– Sariawan
– Bronchitis
– Jerawat
– Keputihan
– Sakit gigi karena berlubang (daunnya)
– Demam berdarah
– Bau mulut
– Haid tidak teratur
– Asma
– Radang tenggorokan (daun dan minyaknya)
– Gusi bengkak (getahnya)
– Membersihkan Mata
– Bau ketiak

Untuk Obat Luar:
– Eksim
– Luka bakar
– Koreng (pyodermi)
– Kurap kaki
– Bisul
– Mimisan
– Sakit mata
– Perdarahan gusi
– Mengurangi produksi ASI yang berlebihan
– Menghilangkan gatal

Itulah beberapa manfaat dan khasiat daun sirih yang sumbernya bisa dilihat secara lengkap disini. Semoga membantu.

Sukses Dan Perubahan


KESUKSESAN HARI INI TIDAK BERARTI
BESOK KITA AKAN MERAIH SUKSES LAGI,
TANPA KESIAPAN DAN BERJUANG LEBIH KERAS,
MAKA KESUKSESAN SULIT KITA PERTAHANKAN!!
Kehidupan terus menerus berubah. Yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Apa pun yang kita tekuni, baik itu di dunia bisnis, politik, jasa, atlit ataupun profesional dan bidang-bidang lainnya. Semua kondisi itu selalu dalam keadaan berubah terus menerus, demikian pula dengan kondisi sukses atau gagal yang kita alami hari ini, semuanya tidak tetap selalu berubah dari saat ke saat.
Kita ambil contoh: Jika hari ini kita mengalami kegagalan, bukan berarti besok tetap gagal. Asal tahu di mana letak kelemahan-kelemahan yang harus diperbaiki, maka usaha kita selanjutnya memungkinkan untuk merubah kegagalan menjadi kesuksesan. Namun, kalau kita tidak berusaha untuk bangkit dari kegagalan, maka kondisi gagal akan semakin membawa kita pada keterpurukan, frustasi dan depresi. Yang pada akhirnya, hanya mampu menghibur diri sendiri dengan apatis dan berkata; “Ya…. kegagalanku ini memang sudah nasibku.” Pembaca yang luar biasa, Lalu bagaimana dengan kondisi sukses yang kita miliki saat ini? Apakah kondisi sukses ini juga berubah? Jawaban saya jelas: Pasti berubah!
Kesuksesan yang telah kita raih hari ini, tidak berarti besok kita akan tetap sukses!
Karena dalam kenyataannya, para pesaing kita, baik yang telah kita kenal, kita ketahui atau yang baru muncul dan tidak kita ketahui, mereka semua melakukan aktivitasnya dengan segenap kemampuan dan berbagai cara untuk mengembangkan usaha mereka secara maksimal. Kalau kesuksesan yang yang telah kita raih membuat kita manja, lengah dan angkuh, maka bisa dipastikan secara berangsur angsur kita akan mengalami kemunduran. Kenapa bisa mundur? Ya karena kondisi itu terus berubah, mempertahankan kesuksesan jauh lebih sulit dari pada menciptakannya, begitu kita manja, semangat menjadi kendor.
Supaya kesuksesan yang telah kita raih tetap berada di genggaman kita, kita harus melakukan persiapan yang dibutuhkan dan sikap mental yang mau tetap belajar dalam memoles diri. Kita juga harus siap berjuang dengan lebih keras lagi. Hanya dengan cara seperti itu minimal kita tetap eksis dengan kesuksesan yang telah kita dapatkan dan maksimal kita akan meraih sukses yang lebih luar biasa!
Tentu tidak menjadi berlebihan untuk selalu mengingatkan pada diri sendiri, bahwa:
KESUKSESAN HARI INI TIDAK BERARTI
BESOK KITA AKAN MERAIH SUKSES LAGI,
TANPA KESIAPAN DAN BERJUANG LEBIH KERAS,
MAKA KESUKSESAN SULIT KITA PERTAHANKAN!!

free counters

KESABARAN


Di dalam Islam, sabar itu ada 3 derajatnya.

1. Sabar terhadap ketaatan.
2. Sabar terhadap kemaksiatan.
3. Sabar terhadap ketentuan dan musibah.

Derajar sabar yang paling agung adalah sabar terhadap ketaatan. Tatkala kita melaksanakan ketaatan, lalu kita bersabar terhadapnya dan kita menyabarkan diri kita sendiri, maka kita akan tetap melaksanakannya, dengan segala khusyu dan ketundukan.

Sabar terhadap kemaksiatan yaitu tatkala jiwa kita yang senantiasa menyuruh untuk berbuat jahat dan akan membinasakan kita, lalu kita bersabar dalam menghindarinya dan mengharapkan pahala hanya dari Allah SWT.

Sabar menerima takdir Allah, dilakukan ketika Allah telah menetapkan takdirNya ke atas diri kita, untuk meringankan dosa-dosa kita dan meninggikan derajat kita.

Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang bersabar, karena Allah akan selalu menguji kita dari waktu ke waktu. Amiiinnn……

sumber : Jagalah Allah, Allah akan menjagamu (Dr.Aidh Abdullah Al Qarni)

Ada Apa Dengan Naik Turunnya Iman


Gambar” Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah “. (HR.Ibnu Hibban).

Seperti halnya roda kehidupan, kondisi keimanan seseorang  tidaklah  tetap dalam satu  keadaan,  selalu  mengalami  perubahan, bukan bersifat statis, apalagi setelah  disibukkan oleh berbagai  urusan dunia  yang kadang  bisa menyebabkan lupa pada kondisi  iman. Artinya bahwa suatu  saat bisa saja  iman kita naik, dan dilain waktu  dengan berbagai faktor yang bisa mempengaruhi keimanan seseorang bisa menurun.

Rasulullah bersada ” Al imaanu yazidu wa yankus ” artinya iman itu  naik dan turun, berarti Nabi Muhammad pun tidak mengingkari keadaan iman yang  seperti  itu. Oleh karenanya,  beliau mendorong  dan memberi  arahan kepada kaum Muslim untuk selalu memperbaharui dan menjaga kondisi  iman supaya  jangan sampai turun drastis, yang pada akhirnya akan  menghantarkan ke dalam jurang kehinaan. Karena dengan kondisi tersebut, akan mudah mengantarkan seseorang berbuat dosa.

Keimanan memiliki hubungan yang dekat dengan semangat. Sebagai contoh, ketika kita mendengarkan ceramah, tausiah atau kajian-kajian dari ustad  misalkan ; tentang dahsyatnya shodaqoh, menjadi wanita sholehah, tentang surga , tentang kehidupan akhirat yang sebenar-benar kehidupan yang akan kita tuju, tentang dosa, sabar  dsb…, sangat  wajar  saat itu kita tersentuh  dan ingin  rasanya segera  melakukan yang baik dan yang dianjurkan ,  merasa menyesal, sepertinya nasehat tsb masuk ke telinga  dan terekam , dan kita pun mulai semangat melakukan perubahan walau tidak begitu drastis, namun kembali lagi ….kehidupan dunia  kadang melenakan kita, terjebak dalam rutinitas, keletihan  bahkan sampai tak punya waktu  ntuk merenung, akhirnya berangsur-angsur semangat mengendor, dan menjadi seperti masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Kita sulit menjaga keistiqomahan.

Yang menjadi pertanyaan, bagaimana kita menyikapi kondisi tersebut , sebagai orang awam ….apa yang harus  kita lakukan untuk menambah keimanan serta mempertahankannya, sebaliknya hal-hal apa saja yang bisa menyebabkan keimanan seseorang menurun?

Dengan keterbatasan buku yang saya punya dan saya baca (maklum disini tak segampang di Indonesia mendapatkan/membeli buku) alhamdulillah akhirnya saya  dapatkan  artikel dari  eramuslim (konsultasi) dan  membaca sebuah  blog yang mengupas hal yang sama dengan bersumber pada buku yang berjudul sebab- sebab naik turunnya iman oleh Syaikh Abdur Razaaq al Abbaad,  semoga menjadi lebih jelas bagi saya pribadi, menambah ilmu dan semoga bisa bermanfaat   bagi yang lainnya.

Secara singkat saya simpulkan bahwa hal-hal atau cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan keimanan diantaranya :

**Melaksanakan  amal ibadah yang diwajibkan  dalam Islam (sholat, puasa, zakat dan berhaji bagi yang mampu) serta menambah ibadah sunnah. Menuntut ilmu , dengan mempelajari berbagai ilmu agama. Ilmu akan mengantarkan orang untuk tahu akan Tuhannya. Membaca , menelaah dan mentadaburi Al-Quran akan membawa kita ntuk berfikir serta merenungi tanda-tanda  kebesaran Allah  serta membuat hati terpaut pada-Nya. Membaca buku- buku Islam, seperti sejarah kehidupan Rasulullah SAW, para sahabat dan orang-orang sholeh, dan cerita-cerita penuh hikmah. Mengikuti pengajian, mendengar ceramah , siraman rohani  serta menghadiri  majlis ta’lim yang rutin.

Adapun sebab-sebab turunnya iman,

**Karena  diri sendiri( Internal);  disebabkan karena kebodohan, ketidakpedulian, keengganan melakukan perbuatan baik, melupakan kewajiban, menyepelekan perintah dan larangan Allah  yang akhirnya menggiring pada perbuatan dosa.

**Dari luar diri kita(eksternal);  seperti mengikuti  bujukan syaitan yang nyata-nyata ingin menjerumuskan manusia dalam kesesatan, berpaling dari Allah serta melakukan perbuatan dosa. Kemudian terbujuk pada rayuan kehidupan dunia. Akibat pengaulan yang buruk, jangan tergoda ntuk bergaul dengan orang -orang atau lingkungan yang lalai dari mengingat Allah.  Kita pernah mendengar kalimat; barangsiapa yang bergaul(berdekatan) dengan pandai besi maka akan terkena percikannya, sebaliknya siapa yang bergaul dengan pedagang minyak wangi maka akan terkena harumnya. Pepatah lain mengatakan,” jika kita ingin melihat  kemuliaan  seseorang, lihatlah siapa teman- temannya.”

Sebab-Sebab Lemahnya Iman dan Cara Mengobatinya.


Karunia yang paling berharga dalam hidup manusia adalah agamanya dan iman kepada Rabbnya. Dan sesungguhnya iman seseorang kepada Rabbnya, sikap membenarkan janji dan ancaman-Nya, mentaati-Nya, mentaati rasul-Nya, mengerjakan perintah dan menjauhi larangan-Nya adalah buah keimanan yang dengannya akan tercapai kebahagiaan di dunia dan

keberuntungan serta keselamatan di akhirat.

Namun iman bisa bertambah dan berkurang. Bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Sehingga manusia dituntut selalu waspada dan berusaha agar imannya tidak lemah, kurang atau bahkan hilang.

Diantara faktor-faktor lemah iman adalah:

Terjatuh kepada dosa dan maksiat
Kerasnya hati
Malas mengerjakan ibadah dan ketaatan
Tidak terpengaruh dengan Al Quran
Tidak marah ketika perkara-perkara yang diharamkan Allah dilakukan
Kikir dengan harta
Enggan mempelajari ilmu syar’i
Sempit hati
Lalai
Cinta popularitas
Meningggalkan teladan yang shaleh
Banyak sibuk dengan dunia
Banyak sibuk dengan istri-istri dan anak-anak

Diantara obat lemah iman adalah konsisten mengerjakan amal-amal shaleh, diantaranya:

Menjaga shalat lima waktu
Membaca Al Quran dengan tadabbur
Merutinkan dzikir
Melakukan tafakkur terhadap makhluk-makhluk Allah
Melakukan shaum sunnah
Mengerjakan shalat malam
Mengantarkan jenazah
Menjenguk orang sakit
Berbakti kepada kedua orang tua dan bersilaturahmi
belajar ilmu syar’i dan mengajarkannya
Membantu orang lain
Mengingat mati dan waspada dari su`ul khatimah

[Sumber: http://ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=263243 dengan sedikit perubahan]

2012, Sawit Sangat Menjanjikan


This slideshow requires JavaScript.

Pontianak – Permintaan CPO (crude palm oil) di pasar dunia terus merangkak naik. Prospek yang menjanjikan bagi para pelaku sawit di Kalbar pada 2012 ini. Baik bagi petani, perusahaan swasta, maupun BUMN sawit.

Angin segar ini bukan hanya untuk para pelaku bisnis sawit belaka. Bersaingnya CPO dengan minyak kacang dan seed yang rajin melakukan black campaign lewat NGO yang dibiayai asing, itu justru menguntungkan ekonomi Kalbar pascatenggelamnya kayu dan perambahan hutan.

Kepada Darussalam dari Equator, Wagio Ripto Sumarto, Direktur SDM dan Umum PTPN XIII, menyatakan BUMN sawit terbesar di Kalbar ini akan mengembangkan area dan meningkatkan produksi CPO hingga 2014 mendatang.

“Permintaan CPO semakin tinggi saat ini. Dulu kita hanya menjual ke pasar Eropa Timur, sekarang kita meluaskan pasar hingga Cina dan India,” tutur Wagio kepada Equator di kantornya, Senin (2/1).

Tentu untuk memenuhi kebutuhan dunia PTPN XIII akan mengembangkan lahan inti hingga 75 ribu hektare untuk meningkatkan produksi CPO hingga 350 ribu ton per tahunnya.

Besarnya permintaan CPO ini, kata Wagio, seiring dengan penggunaan minyak nabati sebagai bahan pengganti minyak bumi yang tingkat emisi karbonnya sudah sangat tinggi. Sedangkan sawit dan minyak nabati lainnya adalah sumber bahan bakar yang terbarukan.

“Ini merupakan konsekuensi dari Kyoto Protocol, kesepakatan dunia mengurangi gas emisi atau gas buang sebesar 20 persen, dan harus tercapai di tahun 2020,” jelas Wagio.

Solusinya, minyak sawit sebagai pengganti solar akan terus meningkat baik di Asia maupun Eropa di masa depan. “Selain sangat murah, minyak sawit dapat dijadikan energi yang ramah lingkungan. Makanya permintaan minyak sawit semakin bertambah setiap tahunnya,” yakin Wagio.

Dengan permintaan tersebut, lanjut Wagio, maka setiap tahunnya harga CPO pun semakin tinggi. Terlebih bersaing dengan minyak kacang dan minyak biji-bijian yang produksinya tidak akan mampu bersaing dengan sawit.

“Permintaan semakin banyak, maka harga pun semakin tinggi. Untuk sekarang saja sudah mencapai Rp 1.600 per kg TBS (tandan buah segar), sedangkan CPO mencapai Rp 7.000 per liter. Ini jauh lebih tinggi dari 2008 yang hanya Rp 1.000 rupiah per kg TBS. Kenaikan ini jelas akan menambah penghasilan petani kita,” papar Wagio.

Prospek minyak sawit dunia bukan hanya dilirik rakyat dan pengusaha saja. BUMN yang mulai beroperasi sejak 1976 ini berancang-ancang ekspansi kebunnya.

“Sebelumnya hanya memiliki lahan inti seluas 59.821 hektare dengan plasma 60.507 hektare yang menghampar di Kabupaten Landak dan Sanggau dengan produksi 340.000 ton per tahun, kini akan diperluas lagi,” kata putra kelahiran Kabupaten Sanggau ini.

PTPN XIII jelas tidak bisa bekerja sendiri. Lahan pihak ketiga juga dirangkul guna menambah produksi CPO agar meningkat hingga 4,3 persen per tahun.

Sejak buka lahan tahun 1976 dan berproduksi di tahun 1980, manajemen PT PN XIII makin melihat kesadaran masyarakat akan manfaat kebun sawit bagi peningkatan ekonomi.

“Perbaikan ini sejalan dengan visi kita, yakni tumbuh bersama mitra. Petani dan pihak ketiga adalah mitra kita. Makanya antara luas lahan inti dan plasma hendaknya memproduksi TBS yang sama,” jelas Wagio.

Bagaimana menyamakan visi tersebut, petani harus dibina lewat pelatihan hingga memberikan pinjaman, terutama bantuan pupuk.

“Memang diakui masih ada kekurangan produksi TBS petani kita. Paling tidak harus menyamai hasil produksi inti 18 ton per hektarenya. Petani kita hanya mampu 10-11 ton per hektarnya. Ini disadari perlu pembinaan dan bantuan dari PTPN XII. Dan kita sudah membuat program tersebut yang diberi nama konsep Pola Satu Manajemen,” ungkap Wagio.

Konsep tersebut berupa pelatihan kepada petani, baik bagaimana pemupukan, merawat hingga membangun jalan guna mengangkut TBS. Selain pendidikan manajemen pengelolaan keuangan, keluarga petani didorong membangun semangat gotong royong dan kebersamaan dalam membangun perkebunan sawit.

“Kita harus tumbuh dan berkembang bersama. Kita sebagai badan penjamin mereka, bila ingin mendapatkan bantuan, baik ke bank maupun pihak lain. Seperti bantuan dari PT Pertamina berupa pupuk sebesar Rp 213 miliar pada 2011-2012,” jelas Wagio.

Harus diakui, membangun masyarakat sawit memang tidak gampang. Namun kini terasa, kota-kota tumbuh oleh sawit. Ekonomi masyarakat juga meningkat dengan hadirnya sawit.

“Bayangkan, untuk saat ini saja setiap tahun PTPN XIII mengeluarkan dana Rp 100 miliar untuk membayar TBS petani, gaji karyawan dan pihak ketiga. Coba hitung, begitu besarnya perputaran uang di daerah sawit,” ungkapnya.

Wajar bila petani kita mampu menyekolahkan anaknya, membeli sepeda motor, dan membangun rumah dari hasil sawit. “Yang pasti kehidupan di daerah tersebut semakin berkembang,” papar Wagio. (lam)

Kisah Sahabat Nabi: Mu’adz bin Jabal, Pelita Ilmu dan Amal


REPUBLIKA.CO.ID, Tatkala Rasulullah mengambil baiat dari orang-orang Anshar pada perjanjian Aqabah yang kedua, diantara para utusan yang terdiri atas 70 orang itu terdapat seorang anak muda dengan wajah berseri, pandangan menarik dan gigi putih berkilat serta memikat. Perhatian dengan sikap dan ketenangannya. Dan jika bicara maka orang yang melihat akan tambah terpesona karenanya. Nah, itulah dia Mu’adz bin Jabal RA.

Dengan demikian, ia adalah seorang tokoh dari kalangan Anshar yang ikut baiat pada Perjanjian Aqabah kedua, hingga termasuk Ash-Shabiqul Awwalun—golongan yang pertama masuk Islam. Dan orang yang lebih dulu masuk Islam dengan keimanan serta keyakinannya seperti demikian, mustahil tidak akan turut bersama Rasulullah dalam setiap perjuangan.

Maka demikianlah halnya Mu’adz. Tetapi kelebihannya yang paling menonjol dan keitstimewaannnya yang utama ialah fiqih atau keahliannya dalam soal hukum. Keahliannya dalam fiqih dan ilmu pengetahuan ini mencapai taraf yang menyebabkannya berhak menerima pujian dari Rasulullah SAW dengan sabdanya: “Umatku yang paling tahu akan yang halal dan yang haram ialah Mu’adz bin Jabal.”

Dalam kecerdasan otak dan keberaniannya mengemukakan pendapat, Mu’adz hampir sama dengan Umar bin Khathab. Ketika Rasulullah SAW hendak mengirimnya ke Yaman, lebih dulu ditanyainya, “Apa yang menjadi pedomanmu dalam mengadili sesuatu, hai Mu’adz?”

“Kitabullah,” jawab Mu’adz.

“Bagaimana jika kamu tidak jumpai dalam Kitabullah?”, tanya Rasulullah pula.

“Saya putuskan dengan Sunnah Rasul.”

“Jika tidak kamu temui dalam Sunnah Rasulullah?”

“Saya pergunakan pikiranku untuk berijtihad, dan saya takkan berlaku sia-sia,” jawab Muadz.

Maka berseri-serilah wajah Rasulullah. “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah sebagai yang diridhai oleh Rasulullah,” sabda beliau.

Dan mungkin kemampuan untuk berijtihad dan keberanian menggunakan otak dan kecerdasan inilah yang menyebabkan Mu’adz berhasil mencapai kekayaan dalam ilmu fiqih, mengatasi teman dan saudara-saudaranya hingga dinyatakan oleh Rasulullah sebagai “orang yang paling tahu tentang yang halal dan yang haram”.

Suatu hari, pada masa pemerintahan Khalifah Umar, A’idzullah bin Abdillah masuk masjid bersama beberapa orang sahabat. Maka ia pun duduk pada suatu majelis yang dihadiri oleh tiga puluh orang lebih. Masing-masing menyebutkan sebuah hadits yang mereka terima dari Rasulullah SAW.

Pada halaqah atau lingkaran itu ada seorang anak muda yang amat tampan, hitam manis warna kulitnya, bersih, baik tutur katanya dan termuda usianya di antara mereka. Jika pada mereka terdapat keraguan tentang suatu hadits, mereka tanyakan kepada anak muda itu yang segera memberikan fatwanya.

“Dan ia tak berbicara kecuali bila diminta. Dan tatkala majelis itu berakhir, saya dekati anak muda itu dan saya tanyakan siapa namanya, ia menjawab, saya adalah Mu’adz bin Jabal,” tutur A’idzullah.

Shahar bin Hausyab tidak ketinggalan memberikan ulasan, katanya, “Bila para sahabat berbicara, sedang di antara mereka hadir Mu’adz bin Jabal, tentulah mereka akan sama-sama meminta pendapatnya karena kewibawaannya.”

Dan Amirul Mukminin Umar bin Khatab RA sendiri sering meminta pendapat dan buah pikirannya. Bahkan dalam salah satu peristiwa di mana ia memanfaatkan pendapat dan keahliannya dalam hukum, Umar pernah berkata, “Kalau tidaklah berkat Mu’adz bin Jabal, akan celakalah Umar!”

Ia seorang pendiam, tak hendak bicara kecuali atas permintaan hadirin. Dan jika mereka berbeda pendapat dalam suatu hal, mereka pulangkan kepada Mu’adz untuk memutuskannya. Maka jika ia telah buka suara, adalah ia sebagaimana dilukiskan oleh salah seorang yang mengenalnya: “Seolah-olah dari mulutnya keluar cahaya dan mutiara.”

Dan kedudukan yang tinggi di bidang pengetahuan ini, serta penghormatan kaum Muslimin kepadanya, baik selagi Rasulullah masih hidup maupun setelah beliau wafat, dicapai Mu’adz sewaktu ia masih muda. Ia meninggal dunia di masa pemerintahan Umar, sedang usianya belum 33 tahun!

Mu’adz adalah seorang yang murah tangan, lapang hati dan tinggi budi. Tidak sesuatu pun yang diminta kepadanya, kecuali akan diberinya secara berlimpah dan dengan hati yang ikhlas. Sungguh kemurahan Mu’adz telah menghabiskan semua hartanya.

Ketika Rasulullah SAW wafat, Mu’adz masih berada di Yaman, yakni semenjak ia dikirim Nabi ke sana untuk membimbing kaum Muslimin dan mengajari mereka tentang seluk-seluk Agama.

Di masa pemerintahan Abu Bakar, Mu’adz kembali ke Yaman. Umar tahu bahwa Mu’adz telah menjadi seorang yang kaya raya, maka ia mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar agar kekayaan Mu’adz itu dibagi dua. Tanpa menunggu jawaban Abu Bakar, Umar segera pergi ke rumah Mu’adz dan mengemukakan masalah tersebut.

Mu’adz adalah seorang yang bersih tangan dan suci hati. Dan seandainya sekarang ia telah menjadi kaya raya, maka kekayaan itu diperolehnya secara halal, tidak pernah diperolehnya dengan berbuat dosa. Bahkan juga tak hendak menerima barang yang syubhat.

Oleh sebab itu, usul Umar ditolaknya dan alasan yang dikemukakannya dipatahkannya dengan alasan pula. Umar berpaling meninggalkannya. Pagi-pagi keesokan harinya Mu’adz pergi ke rumah Umar. Ketika sampai di sana, Mu’adz merangkul dan memeluk Umar, sementara air mata mengalir mendahului kata-katanya. “Malam tadi saya bermimpi masuk kolam yang penuh dengan air, hingga saya cemas akan tenggelam. Untunglah anda datang, hai Umar, dan menyelamatkan saya!”

Kemudian bersama-sama mereka datang kepada Abu Bakar, dan Mu’adz meminta kepada khalifah untuk mengambil seperdua hartanya. “Tidak satu pun yang akan kuambil darimu,” ujar Abu Bakar.

“Sekarang harta itu telah halal dan jadi harta yang baik,” kata Umar menghadapkan pembicaraannya kepada Mu’adz.

Andai diketahuinya bahwa Mu’adz memperoleh harta itu dari jalan yang tidak sah, maka tidak satu dirham pun Abu Bakar yang saleh itu akan menyisakan baginya. Namun Umar tidak pula berbuat salah dengan melemparkan tuduhan atau menaruh dugaan yang bukan-bukan terhadap Mu’adz.

Hanya saja masa itu adalah masa gemilang, penuh dengan tokoh-tokoh utama yang berpacu mencapai puncak keutamaan. Di antara mereka ada yang berjalan secara santai, tak ubah bagi burung yang terbang berputar-putar, ada yang berlari cepat, dan ada pula yang berlari lambat, namun semua berada dalam kafilah yang sama menuju kepada kebaikan.

Mu’adz pindah ke Syria (Suriah), di mana ia tinggal bersama penduduk dan orang yang berkunjung ke sana sebagi guru dan ahli hukum. Dan tatkala Abu Ubaidah bin Jarrah—amir atau gubernur militer di sana serta shahabat karib Mu’adz—meninggal dunia, ia diangkat oleh Amirul Mukminin Umar sebagai penggantinya di Syria.

Tetapi hanya beberapa bulan saja ia memegang jabatan itu, Mu’adz dipanggil Allah untuk menghadap-Nya dalam keadaan tunduk dan menyerahkan diri.

Pada suatu hari Rasulullah SAW bersabda, “Hai Mu’adz! Demi Allah, aku sungguh sayang kepadamu. Maka jangan lupa setiap habis shalat mengucapkan: ‘Ya Allah, bantulah aku untuk selalu ingat dan syukur serta beribadat dengan ikhlas kepada-Mu.”

Mu’adz mengerti dan memahami ajaran tersebut dan telah menerapkannya secara tepat.

Pada suatu pagi Rasulullah bertemu dengan Mu’adz, maka beliau bertanya, “Bagaimana keadaanmu di pagi hari ini, hai Mu’adz?”

“Di pagi hari ini aku benar-benar telah beriman, ya Rasulullah,” jawabnya.

“Setiap kebenaran ada hakikatnya,” kata Nabi pula, “maka apakah hakikat keimananmu?”

“Setiap berada di pagi hari, aku menyangka tidak akan menemui lagi waktu sore. Dan setiap berada di waktu sore, aku menyangka tidak akan mencapai lagi waktu pagi. Dan tiada satu langkah pun yang kulangkahkan, kecuali aku menyangka tiada akan diiringi dengan langkah lainnya. Dan seolah-olah kesaksian setiap umat jatuh berlutut, dipanggil melihat buku catatannya. Dan seolah-olah kusaksikan penduduk surga menikmati kesenangan surga. Sedang penduduk neraka menderita siksa dalam neraka.”

Maka sabda Rasulullah SAW, “Memang, kamu mengetahuinya, maka pegang teguhlah jangan dilepaskan!”

Menjelang akhir hayatnya, Mu’adz berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya selama ini aku takut kepada-Mu, tetapi hari ini aku mengharapkan-Mu. Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku tidaklah mencintai dunia demi untuk mengalirkan air sungai atau menanam kayu-kayuan, tetapi hanyalah untuk menutup haus di kala panas, dan menghadapi saat-saat yang gawat, serta untuk menambah ilmu pengetahuan, keimanan dan ketaatan.”

Lalu diulurkanlah tangannya seolah-olah hendak bersalaman dengan maut, dan dalam keberangkatannya ke alam gaib, ia masih sempat berujar, “Selamat datang wahai maut. Kekasih tiba di saat diperlukan…” Dan nyawa Mu’adz pun melayanglah menghadap Allah.

Redaktur: cr01
Sumber: 101 Sahabat Nabi dan sumber lain

Kisah Sahabat Nabi: Mush’ab bin Umair, Duta Islam yang Pertama


REPUBLIKA.CO.ID, Mush’ab bin Umair salah seorang diantara para sahabat Nabi. Ia seorang remaja Quraisy terkemuka, gagah dan tampan, penuh dengan jiwa dan semangat kemudaan. Para ahli sejarah melukiskan semangat kemudaannya dengan kalimat: “Seorang warga kota Makkah yang mempunyai nama paling harum.”

Mush’ab lahir dan dibesarkan dalam kesenangan, dan tumbuh dalam lingkungannya. Mungkin tak seorang pun di antara anak-anak muda Makkah yang beruntung dimanjakan oleh kedua orang tuanya sebagaimana yang dialami Mush’ab bin Umair.

Mungkinkah kiranya anak muda yang serba kecukupan, biasa hidup mewah dan manja, menjadi buah-bibir gadis-gadis Makkah dan menjadi bintang di tempat-tempat pertemuan, akan meningkat menjadi tamsil dalam semangat kepahlawanan?

Suatu hari, anak muda ini mendengar berita yang telah tersebar luas di kalangan warga Makkah mengenai Muhammad Al-Amin, yang mengatakan dirinya telah diutus Allah sebagai pembawa berita suka maupun duka, sebagai dai yang mengajak umat beribadah kepada Allah Yang Maha Esa.

Di antara berita yang didengarnya ialah bahwa Rasulullah bersama pengikutnya biasa mengadakan pertemuan di suatu tempat yang terhindar jauh dari gangguan gerombolan Quraisy dan ancaman-ancamannya, yaitu di bukit Shafa di rumah Arqam bin Abil Arqam.

Maka pada suatu senja, didorong oleh kerinduannya, pergilah ia ke rumah Arqam menyertai rombongan itu. Di tempat itu Rasulullah SAW sering berkumpul dengan para sahabatnya, mengajarkan mereka ayat-ayat Alquran dan mengajak mereka beribadah kepada Allah Yang Maha Akbar.

Baru saja Mush’ab mengambil tempat duduknya, ayat-ayat Alqur’an mulai mengalir dari kalbu Rasulullah bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para pendengar. Di senja itu Mush’ab pun terpesona oleh untaian kalimat Rasulullah yang tepat menemui sasaran di kalbunya.

Khunas binti Malik yakni ibunda Mush’ab, adalah seorang yang berkepribadian kuat dan pendiriannya tak dapat ditawar atau diganggu gugat, Ia wanita yang disegani bahkan ditakuti. Ketika Mush’ab memeluk Islam, tiada satu kekuatan pun yang ditakuti dan dikhawatirkannya selain ibunya sendiri.

Bahkan walau seluruh penduduk Makkah beserta berhala-berhala para pembesar dan padang pasirnya berubah rupa menjadi suatu kekuatan yang menakutkan yang hendak menyerang dan menghancurkannya, tentulah Mush’ab akan menganggapnya enteng. Tapi tantangan dari ibunya, bagi Mush’ab tidak dapat dianggap kecil. Ia pun segera berpikir keras dan mengambil keputusan untuk menyembunyikan keislamannya sampai terjadi sesuatu yang dikehendaki Allah.

Demikianlah ia senantiasa bolak-balik ke rumah Arqam menghadiri majelis Rasulullah, sedang hatinya merasa bahagia dengan keimanan dan sedia menebusnya dengan amarah murka ibunya yang belum mengetahui berita keislamannya.

Tetapi di kota Makkah tiada rahasia yang tersembunyi, apalagi dalam suasana seperti itu. Mata kaum Quraisy berkeliaran di mana-mana mengikuti setiap langkah dan menyelusuri setiap jejak. Kebetulan seorang yang bernama Utsman bin Thalhah melihat Mush’ab memasuki rumah Arqam secara sembunyi. Kemudian pada hari yang lain dilihatnya pula ia shalat seperti Muhammad SAW. Secepat kilat ia mendapatkan ibu Mush’ab dan melaporkan berita yang dijamin kebenarannya.

Berdirilah Mush’ab di hadapan ibu dan keluarganya serta para pembesar Makkah yang berkumpul di rumahnya. Dengan hati yang yakin dan pasti dibacakannya ayat-ayat Alquran yang disampaikan Rasulullah untuk mencuci hati nurani mereka, mengisinya dengan hikmah dan kemuliaan, kejujuran dan ketakwaan.

Ketika sang ibu hendak membungkam mulut putranya dengan tamparan keras, tiba-tiba tangan yang terulur bagai anak panah itu surut dan jatuh terkulai, ketika melihat cahaya yang membuat wajah putranya berseri cemerlang itu kian berwibawa. Karena rasa keibuannya, ibunda Mush’ab tak jadi menyakiti putranya. Dibawalah puteranya itu ke suatu tempat terpencil di rumahnya, lalu dikurung dan dipenjarakannya dengan rapat.

Demikianlah beberapa lama Mush’ab tinggal dalam kurungan sampai saat beberapa orang Muslimin hijrah ke Habasyah. Mendengar berita hijrah ini Mush’ab pun mencari muslihat, dan berhasil mengelabui ibu dan penjaga-penjaganya, lalu pergi ke Habasyah melindungkan diri. Ia tinggal di sana bersama saudara-saudaranya kaum Muslimin, lalu pulang ke Makkah. Kemudian ia pergi lagi hijrah kedua kalinya bersama para sahabat atas titah Rasulullah dan karena taat kepadanya.

Pada Suatu hari ia tampil di hadapan beberapa orang Muslimin yang sedang duduk sekeliling Rasulullah SAW. Demi memandang Mush’ab, mereka menundukkan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang matanya basah karena duka. Mereka melihat Mush’ab memakai jubah usang yang bertambal-tambal, padahal belum lagi hilang dari ingatan mereka—pakaiannya sebelum masuk Islam—tak ubahnya bagaikan kembang di taman, berwarna-warni dan menghamburkan bau yang wangi.

Adapun Rasulullah, menatapnya dengan pandangan penuh arti, disertai cinta kasih dan syukur dalam hati. Pada kedua bibirnya tersungging senyuman mulia, seraya berkata, “Dahulu aku lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Suatu saat Mush’ab dipilih Rasulullah untuk melakukan suatu tugas maha penting saat itu. Ia menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan agama Islam kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan berbaiat kepada Rasulullah di bukit Aqabah. Di samping itu, ia juga mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijrah Rasulullah sebagai peristiwa besar.

Sebenarnya, di kalangan sahabat ketika itu masih banyak yang lebih tua, lebih berpengaruh dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah daripada Mush’ab. Tetapi Rasulullah menjatuhkan pilihannya kepada Mush’ab. Dan bukan tidak menyadari sepenuhnya bahwa beliau telah memikulkan tugas amat penting ke atas pundak pemuda itu dan menyerahkan kepadanya tanggung jawab nasib Agama Islam di kota Madinah.

Mush’ab memikul amant itu dengan bekal karunia Allah kepadanya, berupa pikiran yang cerdas dan budi yang luhur. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka berduyun-duyun masuk Islam. Ketika tiba di Madinah pertama kali, ia mendapati kaum Muslimin tidak lebih dari dua belas orang, yakni hanya orang-orang yang telah baiat di bukit Aqabah. Namun beberapa bulan kemudian, meningkatlah jumlah orang-orang yang memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya.

Mush’ab memahami tugas dengan sepenuhnya, hingga tak terlanjur melampaui batas yang telah diterapkan. Ia sadar bahwa tugasnya adalah menyeru kepada Allah, menyampaikan berita gembira lahirnya suatu agama yang mengajak manusia mencapai hidayah Allah, membimbing mereka ke jalan yang lurus. Akhlaknya mengikuti pola hidup Rasulullah SAW yang diimaninya yang mengemban kewajiban hanya menyampaikan belaka. Demikianlah duta Rasulullah yang pertama itu telah mencapai hasil gemilang yang tiada taranya, suatu keberhasilan yang memang wajar dan layak diperolehnya.

Dalam Perang Uhud, Mush’ab bin Umair adalah salah seorang pahlawan dan pembawa bendera perang. Ketika situasi mulai gawat karena kaum Muslimin melupakan perintah Nabi, maka ia mengacungkan bendera setinggi-tingginya dan bertakbir sekeras-kerasnya, lalu maju menyerang musuh. Targetnya, untuk menarik perhatian musuh kepadanya dan melupakan Rasulullah SAW. Dengan demikian ia membentuk barisan tentara dengan dirinya sendiri.

Tiba-tiba datang musuh bernama Ibnu Qumaiah dengan menunggang kuda, lalu menebas tangan Mush’ab hingga putus, sementara Mush’ab meneriakkan, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul.”

Maka Mush’ab memegang bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mush’ab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya ke dada sambil berucap, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul.”

Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak, dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah. Mush’ab pun gugur, dan bendera jatuh. Ia gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada.

Rasulullah bersama para sahabat datang meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai di tempat terbaringnya jasad Mush’ab, bercucuranlah dengan deras air matanya.

Tak sehelai pun kain untuk menutupi jasadnya selain sehelai burdah. Andai ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan di kakinya, terbukalah kepalanya. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan kakinya tutuplah dengan rumput idzkhir!”

Kemudian sambil memandangi burdah yang digunakan untuk kain penutup itu, Rasulullah berkata, “Ketika di Makkah dulu, tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripadanya. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah.”

Setelah melayangkan pandang, ke arah medan laga serta para syuhada, kawan-kawan Mush’ab yang tergeletak di atasnya, Rasulullah berseru, “Sungguh, Rasulullah akan menjadi saksi nanti di hari kiamat, bahwa kalian semua adalah syuhada di sisi Allah!”

Kemudian sambil berpaling ke arah sahabat yang masih hidup, Rasulullah bersabda, “Hai manusia, berziarahlah dan berkunjunglah kepada mereka, serta ucapkanlah salam! Demi Allah yang menguasai nyawaku, tak seorang Muslim pun sampai hari kiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereka akan membalasnya.”

Redaktur: cr01
Sumber: 101 Sahabat Nabi karya Hepi Andi Bastoni

Idenya Membuat Bisnis Berjalan Tanpa Anda


Jakarta (ANTARA News) – Bradley J Sugars, pendiri ActionCOACH memiliki visi menciptakan kelimpahan di dunia ini lewat re-edukasi bisnis. Determinasi sukses baginya adalah profitable, entreprise, commercial that RUNS without YOU.

Kelimpahan hanya bisa dicapai lewat mind set yang benar tentang bagaimana menciptakan bisnis. Benar artinya memiliki 3 makna, yaitu benar berdasarkan mind set, benar berdasarkan sikap dan benar berdasarkan men-setting gambaran besar (visi dan misi).

Lucu rasanya, jika Anda ingin ke Surabaya dari posisi Anda di Jakarta, tapi gambaran besar Anda tentang Surabaya itu Lampung, dan Anda bergerak ke arah yang berlawanan. Apakah ini masuk akal?

Atau contoh lain, Anda memiliki konsep rumah tinggal namun pada kenyataannya Anda justru kini membangun bangunan bertingkat tinggi. Tak ada pondasi yang kokoh dan tiang pancang yang kuat, apa yang terjadi?

Inilah perlunya tiga pemahaman tentang konsep diatas, jika Anda pengusaha sejati, pastikan apakah Anda sudah memiliki pemahaman yang benar tentang ketiganya?

Dengan kata lain, Bradley J Sugar ingin agar pemilik bisnis memiliki bisnis yang bisa berjalan tanpa Anda, dan tetap menguntungkan, berkembang serta memiliki sistim yang solid lewat konsep ini.

Masih ingat formula sukses Brad J Sugars? BE X DO = HAVE

Seorang pemilik bisnis harus melihat sukses di tiga bagian. Area BE artinya level pemikiran atau mind set. Area DO di level sikap dan level HAVE artinya goal yang ingin dicapai.

Berapa banyak diantara pemilik bisnis yang hanya fokus pada hasil dan aktivitas tapi lupa tentang perkembangan pola pikir mereka?

Padahal menurut pepatah kuno, yang menentukan kualitas buah bukan pohon atau batangnya, tapi bibit. Dan bibit selalu dimulai dari pola pikir. Sudah benarkah pola pikir Anda berbisnis?

Formula Sukses BE X DO = HAVE

Brad J Sugars sangat menyayangkan masih banyak pengusaha yang mengaku entrepreneur, tapi masih terkunci dalam bisnis mereka. Jangankan bisa meninggalkan bisnis dalam waktu lama, berpikir untuk melepaskan bisnis secara total saja sudah dianggap mustahil.

Itulah sebabnya mengapa pengusaha tak bisa melepaskan diri dari bisnisnya karena mereka tak terlalu mengerti formula sukses BE X DO = HAVE ini secara benar.

Menciptakan sistim bisnis yang auto pilot, menurut Brad, tak sesulit yang dibayangkan. Yang terpenting adalah bagaimana kita men-setting pola pikir yang tepat hingga pada prosesnya melakukan apa yang seharusnya kita lakukan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.

Juaranya atlit olahraga adalah memenangkan pertanndingan, lalu apa juaranya para pemilik bisnis?

Brad menegaskan bahwa pelatih bisnis tak hanya ada di dunia olahraga. Pelatih bisnis juga diperlukan di area bisnis. Kalo ada yang bertanya, mengapa pemilik bisnis perlu coach? Jawaban yang masuk akal adalah sepanjang mereka ingin juara di bisnis mereka, mereka pasti perlu pelatih.

Seorang olahragawan, jika olahraga hanya untuk sehat, tentu tak perlu coach, tapi jika ingin menjadi juara di bidangnya, sudah pasti wajib memiliki pelatih bisnis.

Dan seorang coach memiliki kapasitas yang diperlukan agar pemilik bisnis bisa mencapai goal mereka, yaitu kebebasan uang, waktu, tenaga dan pikiran.

Idenya membuat bisnis yang bisa berjalan tanpa Anda. Ini adalah cita-cita yang sudah menjadi kenyataan Bradley J Sugar di 47 negara lewat sistim bisnis ActionCOACH yang ia ciptakan.

Bisa dibayangkan, betapa nikmatnya bisnis yang berjalan tanpa Anda didalamnya. Bukan saja waktu dan pikiran Anda terselamatkan, tapi bisnis bisa berpeluang cepat berkembang. Dan ini uniknya konsep ActionCOACH.

Konsep pelatihan bisnis ternyata bukan sebatas untuk pemilik bisnis, tapi juga investor. Mereka memiliki kelebihan uang namun bingung bagaimana cara mengoptimalkannya.

Jika Anda cenderung hanya ingin bebas waktu dan uang lewat uang Anda, maka menjadi investor yang cerdik adalah pilihan tepat. Dan tentu saja, investor yang baik masih perlu bimbingan dan arahan coach bisnis agar segala keputusan bisa berdampak jangka panjang dan sustainable secara positif.

Bagi Anda yang ingin tahu lebih jauh bagaimana membangun sistim bisnis yang auto pilot, segera hubungi (021) 290 366 28 untuk informasi lanjut. Salam funtastic!

Editor: Suryanto

China Kagumi Batik Laweyan


Orang China mengagumi batik buatan Indonesia. Hal itu dikatakan Ketua Dewan Pengurus Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI) Taufan EN Rotorasiko, ketika berkunjung ke Rumah Batik Doyohadi di kampung batik Laweyan, Solo.

‘’Saat itu kami dan rombongan sedang berada di China dalam sebuah acara. Mereka (orang-orang China-red) kagum dengan baju batik berlogo KNPI yang kami kenakan. Kemudian, mereka berpesan untuk dibuatkan,’’ kata dia.

Jika suatu saat rombongan dari China itu datang ke Indonesia, Taufan mengaku akan membawanya ke kampung batik Laweyan. Sebab batik berlogo KNPI tersebut buatan anak-anak Laweyan. Dengan dibawa langsung ke tempat asal, kata dia, mereka bisa pesan langsung ke pengrajinnya.

‘’Hal serupa juga akan kita lakukan bagi tamu luar negeri lainnya selain China,’’ jelas dia.

Dalam kunjungannya di Solo, Taufan juga menyinggung tentang gerakan untuk mengurangi pengangguran. Apalagi gerakan tersebut juga terkait dengan tiga kebijakan KNPI yang salah satunya mewujudkan kemandirian secara ekonomi para pemuda. ‘’Kebijakan kami adalah bagaimana mewujudkan karakter yang baik, nasionalisme yang tinggi, serta kemandirian.’’

Dalam program pengentasan kemiskinan untuk mengurangi pengangguran itu, menurut dia, pihak KNPI telah bekerja sama dengan beberapa stakeholder termasuk HIPMI pusat. Programnya adalah untuk mendukung kegiatan kewirausahaan, khususnya wirausaha muda. Salah satunya adalah mendorong pemanfaatan lahan-lahan yang selama ini menganggur untuk bisa dimanfaatkan.

‘’Jika para pemuda desa sudah mendapatkan pekerjaan antara lain dengan memanfaatkan lahan-lahan yang ada maka mereka tidak perlu lagi pergi ke kota untuk mencari pekerjaan,’’ jelas dia.

( Langgeng Widodo )

Fokus dan Nikmati Pekerjaanmu


Alkisah, ada seorang pianis yang sangat piawai memainkan tuts pianonya. Dia telah memenangi banyak kejuaraan dan telah menjalani pertunjukan di berbagai tempat. Tidak peduli penonton yang menyaksikan pertunjukkannya banyak atau sedikit, ataupun dia berhasil memenangkan pertadingan atau tidak, saat bermain piano, wajahnya tampak selalu berseri-seri, enjoy, seakan di sanalah letak segala kebahagiaannya.

DSCF7561
Pada suatu hari, saat reuni dengan teman-teman lamanya, seorang sahabat bertanya kepadanya, “Kami perhatikan, saat bermain piano, kamu terlihat begitu senang dan bahagia. Sepertinya tidak ada kesusahan sama sekali!”

“Lho, hidup memang seharusnya dihadapi dengan senang kan?” jawabnya si pianis sambil tersenyum.

Lalu ia melanjutkan, “Yah, kalian tahu kan bagaimana masa remajaku dulu. Begitu banyak hobi dan aktivitas yang aku geluti. Mulai dari menggambar, bermain musik, juga berbagai cabang olah raga. Ambisiku satu, yaitu ingin selalu menjadi juara di setiap lomba. Aku rajin berlatih dan berusaha, tetapi karena begitu banyak kegiatan, akhirnya tidak mampu berprestasi secara maksimal dan gagal. Kegagalan-kegagalan itu membuatku kecewa, marah, sedih, dan frustasi pada diri sendiri. Aku pun mulai malas-malasan dan kehilangan motivasi sehingga pelajaran di sekolah pun ikut jatuh.”

“Sekarang kamu bisa menjadi seorang pianis hebat yang tampak selalu happy. Bagaimana ceritanya?” tanya temannya penasaran.

“Melihat raporku yang jelek dan kelakuanku yang menyebalkan, ayahku tidak marah dan berusaha menyadarkan aku. Suatu hari, saat kami sedang bersantai, ayah melakukan sedikit eksperimen. Beliau mengambil segenggam jagung dan sebuah corong kecil. Telapak tanganku diletakkan di bawah corong. ‘Kamu tangkap jagung ini ya,’ kata ayah. Lalu dilepaslah sebiji jagung, yang segera meluncur cepat dan tertangkap di telapak tanganku. Kemudian satu biji lagi, dan tertangkap lagi dengan sempurna. ‘Nah, sekarang siap-siap ya!’ seru ayahku sambil melepas segenggam jagung ke corong. Apa hasilnya? Tidak ada satu biji jagung pun yang jatuh ke tanganku karena lubang corong kecil dan biji jagung tersumbat di situ.”

“Begini penjelasan ayahku: ‘Seperti itulah kehidupan ini; setiap hal atau pekerjaan harus dikerjakan satu persatu, fokus, dan penuh konsentrasi. Maka setiap pekerjaan akan bisa diselesaikan dengan baik dan maksimal, sehingga kamu puas dan merasa bahagia.'”
Saudaraku Yang Luar Biasa,

Seringkali kita berkeinginan melakukan banyak pekerjaan sekaligus dan mendapatkan hasil yang memuaskan, namun dalam kenyataannya justru kekecewaan yang didapat. Saya kira, untuk menghasilkan sukses yang luar biasa, kita harus fokus pada satu titik pekerjaan terlebih dahulu. Lakukan pekerjaan satu persatu dan fokuskan pada apa yang menjadi kelebihan kita. Jika kita melakukan pekerjaan dengan penuh cinta, konsentrasi, dan keyakinan, niscaya hasilnya akan memuaskan, bahkan tidak jarang dampaknya akan mengejutkan! Setuju?

Salam sukses Luar Biasa!

Budidaya Jahe Merah Untung Berlimpah


Perwira Kab. bantulGambar

INDONESIA adalah negara yang kaya akan potensi alam, terutama di bidang pertanian, baik dari hulu hingga ke hilir. Salah satu hasil pertanian di Indonesia yang banyak digemari adalah tanaman rempah-rempahan seperti jahe.

Jahe terdiri dari tiga macam, yaitu jahe putih, jahe kecil/jahe emprit, dan jahe merah. Ketiganya memiliki khasiat yang hampir sama namun juga memiliki kelebihan masing-masing terutama jahe merah.

Jahe merah adalah tanaman semusim dengan tinggi sekitar 40 sampai dengan 50 cm. Perbedaan jahe merah dengan tanaman jahe biasanya adalah rasanya yang lebih pedas, rimpangnya lebih kecil dan warnanya yang kemerah-merahan berbeda dengan varietas jahe lain yang cenderung berwarna putih.

Seperti telah diketahui, jahe merah (zingiber officinale roscoe) merupakan rempah-rempah Indonesia yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama pada bidang kesehatan. Jahe merah berasal dari Asia Pasifik yang tersebar dari India sampai Cina.

Jahe merah termasuk dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae), satu keluarga dengan temu-temuan lainnya seperti temu lawak (Curcuma xanthorrizha), temu hitam (Curcuma aeruginosa), kunyit (Curcuma domestica), kencur (Kaempferia galanga), serta lengkuas (Languas galanga).

Jahe merah digunakan di seluruh dunia sebagai bahan masakan pedas, rempah-rempah dan obat herbal. Cina, India, Malaysia, Arab, Afrika dan Indonesia, jenis tanaman berumbi ini banyak digunakan sebagai bahan pengobatan tradisional secara turun temurun sejak ratusan tahun lalu.

Beberapa penelitian telah membuktikan jahe memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat. Kandungan senyawa jahe merah yang berpengaruh dalam aktivitas antioksidan juga telah ditemukan dan beberapa di antaranya telah diidentifikasi, di antaranya adalah ditemukan bahwa jahe merah merupakan sumber utama melatonin yang mampu melindungi DNA dari kerusakan akibat radikal bebas.

Keuntungan Budidaya Jahe Merah

Siapa sangka di balik tumbuhan yang sederhana ini terkandung banyak sekali manfaat yang ada di dalamnya. Tentu akan sangat membantu jika kita mempunyai banyak cadangan jahe merah di rumah, sehingga jika keadaan darurat tidak sulit untuk mendapatkannya.

Budidaya jahe merah cukup mudah. Bibit yang telah dibeli disemai selama lebih kurang dua minggu hingga muncul tunas, kemudian dipindahkan ke dalam polibag atau karung. Setelah dirawat, jahe merah usia 9-11 bulan sudah bisa dipanen.

Selain mudah, keuntungan finansial yang didapat dari budidaya jahe merah juga cukup menggiurkan. Jika untuk 1 polibag yang berisikan 3 pucuk jahe merah modal yang diperlukan sebesar Rp5.000, kemudian pada saat panen setiap polibag menghasilkan 9 kg (3kg/pucuk) dan dijual seharga Rp25.000/kg, maka hasil yang didapat sebesar 9kg x Rp25.000 = Rp225.000 atau untung Rp220.000. Itu baru perhitungan 1 polibag saja.

Jika kemudian membudidayakan jahe merah sebanyak 100 polibag maka modal yang dibutuhkan hanya Rp. 500.000, namun keuntungan yang didapat akan berkali lipat, yaitu sebesar Rp. 22.000.000.

Tingkat kebutuhan akan jahe merah tentu kian meningkat di masa mendatang sehingga harga jual akan terus melambung, maka bayangkan berapa keuntungan yang didapat dari usaha budidaya jahe merah ini.

 

Metro TV PKS Menang ditengah badai


PKS Menang Lagi

Makin Percaya Diri, PKS Ingin Menang Lagi


GambarBANDARLAMPUNG, RIMANEWS – Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memenangkan pemilukada di tiga kabupaten di Lampung. Pasangan calon bupati-wakil bupati yang diusung PKS menang di Tanggamus, Tulangbawang, dan Lampung Barat. Continue reading

Kecewa, Advokat Hukum Nasdem Mengundurkan Diri


GambarREPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Gejolak di tubuh Partai Nasdem terus bergulir. Setelah satu per satu pengurus DPP dan DPD mengundurkan diri, kali ini jajaran pimpinan Badan Advokasi Hukum (Bahu) Partai Nasdem ikut meninggalkan partai yang mengusung misi restorasi Indonesia itu. Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 330 other followers

%d bloggers like this: