ahun lalu.
Hal serupa juga diungkap pihak Perwakilan Tetap Indonesia di Jenewa, kota di mana WHO dan UNICEF bermarkas besar. Kedua instansi internasional inilah yang menjadi pembeli terbesar vaksin buatan PT Bio Farma (Persero), sementara India pasar terbesar untuk kategori negara.
“Saat itu saga sudah bayangkan bahwa kita harus bermitra dengan China dan harus dilakukan pengubahan strategi dan investasi. Kami berinvestasi cukup besar dalam hal fasilitas praproduksi dan produksi selain investasi SDM peneliti. Yang ideal, kami punya 100 doktor di bidang terkait vaksin ini,” katanya.
Salah satu modal utama yang dimiliki Indonesia adalah plasma nutfah utama bahan dasar vaksin yang berlimpah ruah. Sebagai gambaran, dunia selalu menoleh kepada Indonesia saat menyinggung dan mencari pemecahan atas penyebaran virus H1N5 yang jauh lebih berbahaya ketimbang H1N1; keduanya masuk ke dalam genera virus flu burung.
PT Bio Farma, katanya, sangat serius menyiapkan sumber daya manusianya. “Kami lebih suka menyekolahkan peneliti kami yang sudah sangat paham dengan keperluan kami ketimbang langsung merekrut ilmuwan pada tingkat strata tiga yang baru jadi. Inilah, kita juga berhadapan dengan masalah ketiadaan konektivitas antara dunia pendidikan dan riset dengan industri. Seharusnya ini nyambung,” katanya. (ANT)
Editor: Ade Marboen