2012, Sawit Sangat Menjanjikan

This slideshow requires JavaScript.

Pontianak – Permintaan CPO (crude palm oil) di pasar dunia terus merangkak naik. Prospek yang menjanjikan bagi para pelaku sawit di Kalbar pada 2012 ini. Baik bagi petani, perusahaan swasta, maupun BUMN sawit.

Angin segar ini bukan hanya untuk para pelaku bisnis sawit belaka. Bersaingnya CPO dengan minyak kacang dan seed yang rajin melakukan black campaign lewat NGO yang dibiayai asing, itu justru menguntungkan ekonomi Kalbar pascatenggelamnya kayu dan perambahan hutan.

Kepada Darussalam dari Equator, Wagio Ripto Sumarto, Direktur SDM dan Umum PTPN XIII, menyatakan BUMN sawit terbesar di Kalbar ini akan mengembangkan area dan meningkatkan produksi CPO hingga 2014 mendatang.

“Permintaan CPO semakin tinggi saat ini. Dulu kita hanya menjual ke pasar Eropa Timur, sekarang kita meluaskan pasar hingga Cina dan India,” tutur Wagio kepada Equator di kantornya, Senin (2/1).

Tentu untuk memenuhi kebutuhan dunia PTPN XIII akan mengembangkan lahan inti hingga 75 ribu hektare untuk meningkatkan produksi CPO hingga 350 ribu ton per tahunnya.

Besarnya permintaan CPO ini, kata Wagio, seiring dengan penggunaan minyak nabati sebagai bahan pengganti minyak bumi yang tingkat emisi karbonnya sudah sangat tinggi. Sedangkan sawit dan minyak nabati lainnya adalah sumber bahan bakar yang terbarukan.

“Ini merupakan konsekuensi dari Kyoto Protocol, kesepakatan dunia mengurangi gas emisi atau gas buang sebesar 20 persen, dan harus tercapai di tahun 2020,” jelas Wagio.

Solusinya, minyak sawit sebagai pengganti solar akan terus meningkat baik di Asia maupun Eropa di masa depan. “Selain sangat murah, minyak sawit dapat dijadikan energi yang ramah lingkungan. Makanya permintaan minyak sawit semakin bertambah setiap tahunnya,” yakin Wagio.

Dengan permintaan tersebut, lanjut Wagio, maka setiap tahunnya harga CPO pun semakin tinggi. Terlebih bersaing dengan minyak kacang dan minyak biji-bijian yang produksinya tidak akan mampu bersaing dengan sawit.

“Permintaan semakin banyak, maka harga pun semakin tinggi. Untuk sekarang saja sudah mencapai Rp 1.600 per kg TBS (tandan buah segar), sedangkan CPO mencapai Rp 7.000 per liter. Ini jauh lebih tinggi dari 2008 yang hanya Rp 1.000 rupiah per kg TBS. Kenaikan ini jelas akan menambah penghasilan petani kita,” papar Wagio.

Prospek minyak sawit dunia bukan hanya dilirik rakyat dan pengusaha saja. BUMN yang mulai beroperasi sejak 1976 ini berancang-ancang ekspansi kebunnya.

“Sebelumnya hanya memiliki lahan inti seluas 59.821 hektare dengan plasma 60.507 hektare yang menghampar di Kabupaten Landak dan Sanggau dengan produksi 340.000 ton per tahun, kini akan diperluas lagi,” kata putra kelahiran Kabupaten Sanggau ini.

PTPN XIII jelas tidak bisa bekerja sendiri. Lahan pihak ketiga juga dirangkul guna menambah produksi CPO agar meningkat hingga 4,3 persen per tahun.

Sejak buka lahan tahun 1976 dan berproduksi di tahun 1980, manajemen PT PN XIII makin melihat kesadaran masyarakat akan manfaat kebun sawit bagi peningkatan ekonomi.

“Perbaikan ini sejalan dengan visi kita, yakni tumbuh bersama mitra. Petani dan pihak ketiga adalah mitra kita. Makanya antara luas lahan inti dan plasma hendaknya memproduksi TBS yang sama,” jelas Wagio.

Bagaimana menyamakan visi tersebut, petani harus dibina lewat pelatihan hingga memberikan pinjaman, terutama bantuan pupuk.

“Memang diakui masih ada kekurangan produksi TBS petani kita. Paling tidak harus menyamai hasil produksi inti 18 ton per hektarenya. Petani kita hanya mampu 10-11 ton per hektarnya. Ini disadari perlu pembinaan dan bantuan dari PTPN XII. Dan kita sudah membuat program tersebut yang diberi nama konsep Pola Satu Manajemen,” ungkap Wagio.

Konsep tersebut berupa pelatihan kepada petani, baik bagaimana pemupukan, merawat hingga membangun jalan guna mengangkut TBS. Selain pendidikan manajemen pengelolaan keuangan, keluarga petani didorong membangun semangat gotong royong dan kebersamaan dalam membangun perkebunan sawit.

“Kita harus tumbuh dan berkembang bersama. Kita sebagai badan penjamin mereka, bila ingin mendapatkan bantuan, baik ke bank maupun pihak lain. Seperti bantuan dari PT Pertamina berupa pupuk sebesar Rp 213 miliar pada 2011-2012,” jelas Wagio.

Harus diakui, membangun masyarakat sawit memang tidak gampang. Namun kini terasa, kota-kota tumbuh oleh sawit. Ekonomi masyarakat juga meningkat dengan hadirnya sawit.

“Bayangkan, untuk saat ini saja setiap tahun PTPN XIII mengeluarkan dana Rp 100 miliar untuk membayar TBS petani, gaji karyawan dan pihak ketiga. Coba hitung, begitu besarnya perputaran uang di daerah sawit,” ungkapnya.

Wajar bila petani kita mampu menyekolahkan anaknya, membeli sepeda motor, dan membangun rumah dari hasil sawit. “Yang pasti kehidupan di daerah tersebut semakin berkembang,” papar Wagio. (lam)

Kisah Sahabat Nabi: Mu’adz bin Jabal, Pelita Ilmu dan Amal

REPUBLIKA.CO.ID, Tatkala Rasulullah mengambil baiat dari orang-orang Anshar pada perjanjian Aqabah yang kedua, diantara para utusan yang terdiri atas 70 orang itu terdapat seorang anak muda dengan wajah berseri, pandangan menarik dan gigi putih berkilat serta memikat. Perhatian dengan sikap dan ketenangannya. Dan jika bicara maka orang yang melihat akan tambah terpesona karenanya. Nah, itulah dia Mu’adz bin Jabal RA.

Dengan demikian, ia adalah seorang tokoh dari kalangan Anshar yang ikut baiat pada Perjanjian Aqabah kedua, hingga termasuk Ash-Shabiqul Awwalun—golongan yang pertama masuk Islam. Dan orang yang lebih dulu masuk Islam dengan keimanan serta keyakinannya seperti demikian, mustahil tidak akan turut bersama Rasulullah dalam setiap perjuangan.

Maka demikianlah halnya Mu’adz. Tetapi kelebihannya yang paling menonjol dan keitstimewaannnya yang utama ialah fiqih atau keahliannya dalam soal hukum. Keahliannya dalam fiqih dan ilmu pengetahuan ini mencapai taraf yang menyebabkannya berhak menerima pujian dari Rasulullah SAW dengan sabdanya: “Umatku yang paling tahu akan yang halal dan yang haram ialah Mu’adz bin Jabal.”

Dalam kecerdasan otak dan keberaniannya mengemukakan pendapat, Mu’adz hampir sama dengan Umar bin Khathab. Ketika Rasulullah SAW hendak mengirimnya ke Yaman, lebih dulu ditanyainya, “Apa yang menjadi pedomanmu dalam mengadili sesuatu, hai Mu’adz?”

“Kitabullah,” jawab Mu’adz.

“Bagaimana jika kamu tidak jumpai dalam Kitabullah?”, tanya Rasulullah pula.

“Saya putuskan dengan Sunnah Rasul.”

“Jika tidak kamu temui dalam Sunnah Rasulullah?”

“Saya pergunakan pikiranku untuk berijtihad, dan saya takkan berlaku sia-sia,” jawab Muadz.

Maka berseri-serilah wajah Rasulullah. “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah sebagai yang diridhai oleh Rasulullah,” sabda beliau.

Dan mungkin kemampuan untuk berijtihad dan keberanian menggunakan otak dan kecerdasan inilah yang menyebabkan Mu’adz berhasil mencapai kekayaan dalam ilmu fiqih, mengatasi teman dan saudara-saudaranya hingga dinyatakan oleh Rasulullah sebagai “orang yang paling tahu tentang yang halal dan yang haram”.

Suatu hari, pada masa pemerintahan Khalifah Umar, A’idzullah bin Abdillah masuk masjid bersama beberapa orang sahabat. Maka ia pun duduk pada suatu majelis yang dihadiri oleh tiga puluh orang lebih. Masing-masing menyebutkan sebuah hadits yang mereka terima dari Rasulullah SAW.

Pada halaqah atau lingkaran itu ada seorang anak muda yang amat tampan, hitam manis warna kulitnya, bersih, baik tutur katanya dan termuda usianya di antara mereka. Jika pada mereka terdapat keraguan tentang suatu hadits, mereka tanyakan kepada anak muda itu yang segera memberikan fatwanya.

“Dan ia tak berbicara kecuali bila diminta. Dan tatkala majelis itu berakhir, saya dekati anak muda itu dan saya tanyakan siapa namanya, ia menjawab, saya adalah Mu’adz bin Jabal,” tutur A’idzullah.

Shahar bin Hausyab tidak ketinggalan memberikan ulasan, katanya, “Bila para sahabat berbicara, sedang di antara mereka hadir Mu’adz bin Jabal, tentulah mereka akan sama-sama meminta pendapatnya karena kewibawaannya.”

Dan Amirul Mukminin Umar bin Khatab RA sendiri sering meminta pendapat dan buah pikirannya. Bahkan dalam salah satu peristiwa di mana ia memanfaatkan pendapat dan keahliannya dalam hukum, Umar pernah berkata, “Kalau tidaklah berkat Mu’adz bin Jabal, akan celakalah Umar!”

Ia seorang pendiam, tak hendak bicara kecuali atas permintaan hadirin. Dan jika mereka berbeda pendapat dalam suatu hal, mereka pulangkan kepada Mu’adz untuk memutuskannya. Maka jika ia telah buka suara, adalah ia sebagaimana dilukiskan oleh salah seorang yang mengenalnya: “Seolah-olah dari mulutnya keluar cahaya dan mutiara.”

Dan kedudukan yang tinggi di bidang pengetahuan ini, serta penghormatan kaum Muslimin kepadanya, baik selagi Rasulullah masih hidup maupun setelah beliau wafat, dicapai Mu’adz sewaktu ia masih muda. Ia meninggal dunia di masa pemerintahan Umar, sedang usianya belum 33 tahun!

Mu’adz adalah seorang yang murah tangan, lapang hati dan tinggi budi. Tidak sesuatu pun yang diminta kepadanya, kecuali akan diberinya secara berlimpah dan dengan hati yang ikhlas. Sungguh kemurahan Mu’adz telah menghabiskan semua hartanya.

Ketika Rasulullah SAW wafat, Mu’adz masih berada di Yaman, yakni semenjak ia dikirim Nabi ke sana untuk membimbing kaum Muslimin dan mengajari mereka tentang seluk-seluk Agama.

Di masa pemerintahan Abu Bakar, Mu’adz kembali ke Yaman. Umar tahu bahwa Mu’adz telah menjadi seorang yang kaya raya, maka ia mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar agar kekayaan Mu’adz itu dibagi dua. Tanpa menunggu jawaban Abu Bakar, Umar segera pergi ke rumah Mu’adz dan mengemukakan masalah tersebut.

Mu’adz adalah seorang yang bersih tangan dan suci hati. Dan seandainya sekarang ia telah menjadi kaya raya, maka kekayaan itu diperolehnya secara halal, tidak pernah diperolehnya dengan berbuat dosa. Bahkan juga tak hendak menerima barang yang syubhat.

Oleh sebab itu, usul Umar ditolaknya dan alasan yang dikemukakannya dipatahkannya dengan alasan pula. Umar berpaling meninggalkannya. Pagi-pagi keesokan harinya Mu’adz pergi ke rumah Umar. Ketika sampai di sana, Mu’adz merangkul dan memeluk Umar, sementara air mata mengalir mendahului kata-katanya. “Malam tadi saya bermimpi masuk kolam yang penuh dengan air, hingga saya cemas akan tenggelam. Untunglah anda datang, hai Umar, dan menyelamatkan saya!”

Kemudian bersama-sama mereka datang kepada Abu Bakar, dan Mu’adz meminta kepada khalifah untuk mengambil seperdua hartanya. “Tidak satu pun yang akan kuambil darimu,” ujar Abu Bakar.

“Sekarang harta itu telah halal dan jadi harta yang baik,” kata Umar menghadapkan pembicaraannya kepada Mu’adz.

Andai diketahuinya bahwa Mu’adz memperoleh harta itu dari jalan yang tidak sah, maka tidak satu dirham pun Abu Bakar yang saleh itu akan menyisakan baginya. Namun Umar tidak pula berbuat salah dengan melemparkan tuduhan atau menaruh dugaan yang bukan-bukan terhadap Mu’adz.

Hanya saja masa itu adalah masa gemilang, penuh dengan tokoh-tokoh utama yang berpacu mencapai puncak keutamaan. Di antara mereka ada yang berjalan secara santai, tak ubah bagi burung yang terbang berputar-putar, ada yang berlari cepat, dan ada pula yang berlari lambat, namun semua berada dalam kafilah yang sama menuju kepada kebaikan.

Mu’adz pindah ke Syria (Suriah), di mana ia tinggal bersama penduduk dan orang yang berkunjung ke sana sebagi guru dan ahli hukum. Dan tatkala Abu Ubaidah bin Jarrah—amir atau gubernur militer di sana serta shahabat karib Mu’adz—meninggal dunia, ia diangkat oleh Amirul Mukminin Umar sebagai penggantinya di Syria.

Tetapi hanya beberapa bulan saja ia memegang jabatan itu, Mu’adz dipanggil Allah untuk menghadap-Nya dalam keadaan tunduk dan menyerahkan diri.

Pada suatu hari Rasulullah SAW bersabda, “Hai Mu’adz! Demi Allah, aku sungguh sayang kepadamu. Maka jangan lupa setiap habis shalat mengucapkan: ‘Ya Allah, bantulah aku untuk selalu ingat dan syukur serta beribadat dengan ikhlas kepada-Mu.”

Mu’adz mengerti dan memahami ajaran tersebut dan telah menerapkannya secara tepat.

Pada suatu pagi Rasulullah bertemu dengan Mu’adz, maka beliau bertanya, “Bagaimana keadaanmu di pagi hari ini, hai Mu’adz?”

“Di pagi hari ini aku benar-benar telah beriman, ya Rasulullah,” jawabnya.

“Setiap kebenaran ada hakikatnya,” kata Nabi pula, “maka apakah hakikat keimananmu?”

“Setiap berada di pagi hari, aku menyangka tidak akan menemui lagi waktu sore. Dan setiap berada di waktu sore, aku menyangka tidak akan mencapai lagi waktu pagi. Dan tiada satu langkah pun yang kulangkahkan, kecuali aku menyangka tiada akan diiringi dengan langkah lainnya. Dan seolah-olah kesaksian setiap umat jatuh berlutut, dipanggil melihat buku catatannya. Dan seolah-olah kusaksikan penduduk surga menikmati kesenangan surga. Sedang penduduk neraka menderita siksa dalam neraka.”

Maka sabda Rasulullah SAW, “Memang, kamu mengetahuinya, maka pegang teguhlah jangan dilepaskan!”

Menjelang akhir hayatnya, Mu’adz berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya selama ini aku takut kepada-Mu, tetapi hari ini aku mengharapkan-Mu. Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku tidaklah mencintai dunia demi untuk mengalirkan air sungai atau menanam kayu-kayuan, tetapi hanyalah untuk menutup haus di kala panas, dan menghadapi saat-saat yang gawat, serta untuk menambah ilmu pengetahuan, keimanan dan ketaatan.”

Lalu diulurkanlah tangannya seolah-olah hendak bersalaman dengan maut, dan dalam keberangkatannya ke alam gaib, ia masih sempat berujar, “Selamat datang wahai maut. Kekasih tiba di saat diperlukan…” Dan nyawa Mu’adz pun melayanglah menghadap Allah.

Redaktur: cr01
Sumber: 101 Sahabat Nabi dan sumber lain

Kisah Sahabat Nabi: Mush’ab bin Umair, Duta Islam yang Pertama

REPUBLIKA.CO.ID, Mush’ab bin Umair salah seorang diantara para sahabat Nabi. Ia seorang remaja Quraisy terkemuka, gagah dan tampan, penuh dengan jiwa dan semangat kemudaan. Para ahli sejarah melukiskan semangat kemudaannya dengan kalimat: “Seorang warga kota Makkah yang mempunyai nama paling harum.”

Mush’ab lahir dan dibesarkan dalam kesenangan, dan tumbuh dalam lingkungannya. Mungkin tak seorang pun di antara anak-anak muda Makkah yang beruntung dimanjakan oleh kedua orang tuanya sebagaimana yang dialami Mush’ab bin Umair.

Mungkinkah kiranya anak muda yang serba kecukupan, biasa hidup mewah dan manja, menjadi buah-bibir gadis-gadis Makkah dan menjadi bintang di tempat-tempat pertemuan, akan meningkat menjadi tamsil dalam semangat kepahlawanan?

Suatu hari, anak muda ini mendengar berita yang telah tersebar luas di kalangan warga Makkah mengenai Muhammad Al-Amin, yang mengatakan dirinya telah diutus Allah sebagai pembawa berita suka maupun duka, sebagai dai yang mengajak umat beribadah kepada Allah Yang Maha Esa.

Di antara berita yang didengarnya ialah bahwa Rasulullah bersama pengikutnya biasa mengadakan pertemuan di suatu tempat yang terhindar jauh dari gangguan gerombolan Quraisy dan ancaman-ancamannya, yaitu di bukit Shafa di rumah Arqam bin Abil Arqam.

Maka pada suatu senja, didorong oleh kerinduannya, pergilah ia ke rumah Arqam menyertai rombongan itu. Di tempat itu Rasulullah SAW sering berkumpul dengan para sahabatnya, mengajarkan mereka ayat-ayat Alquran dan mengajak mereka beribadah kepada Allah Yang Maha Akbar.

Baru saja Mush’ab mengambil tempat duduknya, ayat-ayat Alqur’an mulai mengalir dari kalbu Rasulullah bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para pendengar. Di senja itu Mush’ab pun terpesona oleh untaian kalimat Rasulullah yang tepat menemui sasaran di kalbunya.

Khunas binti Malik yakni ibunda Mush’ab, adalah seorang yang berkepribadian kuat dan pendiriannya tak dapat ditawar atau diganggu gugat, Ia wanita yang disegani bahkan ditakuti. Ketika Mush’ab memeluk Islam, tiada satu kekuatan pun yang ditakuti dan dikhawatirkannya selain ibunya sendiri.

Bahkan walau seluruh penduduk Makkah beserta berhala-berhala para pembesar dan padang pasirnya berubah rupa menjadi suatu kekuatan yang menakutkan yang hendak menyerang dan menghancurkannya, tentulah Mush’ab akan menganggapnya enteng. Tapi tantangan dari ibunya, bagi Mush’ab tidak dapat dianggap kecil. Ia pun segera berpikir keras dan mengambil keputusan untuk menyembunyikan keislamannya sampai terjadi sesuatu yang dikehendaki Allah.

Demikianlah ia senantiasa bolak-balik ke rumah Arqam menghadiri majelis Rasulullah, sedang hatinya merasa bahagia dengan keimanan dan sedia menebusnya dengan amarah murka ibunya yang belum mengetahui berita keislamannya.

Tetapi di kota Makkah tiada rahasia yang tersembunyi, apalagi dalam suasana seperti itu. Mata kaum Quraisy berkeliaran di mana-mana mengikuti setiap langkah dan menyelusuri setiap jejak. Kebetulan seorang yang bernama Utsman bin Thalhah melihat Mush’ab memasuki rumah Arqam secara sembunyi. Kemudian pada hari yang lain dilihatnya pula ia shalat seperti Muhammad SAW. Secepat kilat ia mendapatkan ibu Mush’ab dan melaporkan berita yang dijamin kebenarannya.

Berdirilah Mush’ab di hadapan ibu dan keluarganya serta para pembesar Makkah yang berkumpul di rumahnya. Dengan hati yang yakin dan pasti dibacakannya ayat-ayat Alquran yang disampaikan Rasulullah untuk mencuci hati nurani mereka, mengisinya dengan hikmah dan kemuliaan, kejujuran dan ketakwaan.

Ketika sang ibu hendak membungkam mulut putranya dengan tamparan keras, tiba-tiba tangan yang terulur bagai anak panah itu surut dan jatuh terkulai, ketika melihat cahaya yang membuat wajah putranya berseri cemerlang itu kian berwibawa. Karena rasa keibuannya, ibunda Mush’ab tak jadi menyakiti putranya. Dibawalah puteranya itu ke suatu tempat terpencil di rumahnya, lalu dikurung dan dipenjarakannya dengan rapat.

Demikianlah beberapa lama Mush’ab tinggal dalam kurungan sampai saat beberapa orang Muslimin hijrah ke Habasyah. Mendengar berita hijrah ini Mush’ab pun mencari muslihat, dan berhasil mengelabui ibu dan penjaga-penjaganya, lalu pergi ke Habasyah melindungkan diri. Ia tinggal di sana bersama saudara-saudaranya kaum Muslimin, lalu pulang ke Makkah. Kemudian ia pergi lagi hijrah kedua kalinya bersama para sahabat atas titah Rasulullah dan karena taat kepadanya.

Pada Suatu hari ia tampil di hadapan beberapa orang Muslimin yang sedang duduk sekeliling Rasulullah SAW. Demi memandang Mush’ab, mereka menundukkan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang matanya basah karena duka. Mereka melihat Mush’ab memakai jubah usang yang bertambal-tambal, padahal belum lagi hilang dari ingatan mereka—pakaiannya sebelum masuk Islam—tak ubahnya bagaikan kembang di taman, berwarna-warni dan menghamburkan bau yang wangi.

Adapun Rasulullah, menatapnya dengan pandangan penuh arti, disertai cinta kasih dan syukur dalam hati. Pada kedua bibirnya tersungging senyuman mulia, seraya berkata, “Dahulu aku lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Suatu saat Mush’ab dipilih Rasulullah untuk melakukan suatu tugas maha penting saat itu. Ia menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan agama Islam kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan berbaiat kepada Rasulullah di bukit Aqabah. Di samping itu, ia juga mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijrah Rasulullah sebagai peristiwa besar.

Sebenarnya, di kalangan sahabat ketika itu masih banyak yang lebih tua, lebih berpengaruh dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah daripada Mush’ab. Tetapi Rasulullah menjatuhkan pilihannya kepada Mush’ab. Dan bukan tidak menyadari sepenuhnya bahwa beliau telah memikulkan tugas amat penting ke atas pundak pemuda itu dan menyerahkan kepadanya tanggung jawab nasib Agama Islam di kota Madinah.

Mush’ab memikul amant itu dengan bekal karunia Allah kepadanya, berupa pikiran yang cerdas dan budi yang luhur. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka berduyun-duyun masuk Islam. Ketika tiba di Madinah pertama kali, ia mendapati kaum Muslimin tidak lebih dari dua belas orang, yakni hanya orang-orang yang telah baiat di bukit Aqabah. Namun beberapa bulan kemudian, meningkatlah jumlah orang-orang yang memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya.

Mush’ab memahami tugas dengan sepenuhnya, hingga tak terlanjur melampaui batas yang telah diterapkan. Ia sadar bahwa tugasnya adalah menyeru kepada Allah, menyampaikan berita gembira lahirnya suatu agama yang mengajak manusia mencapai hidayah Allah, membimbing mereka ke jalan yang lurus. Akhlaknya mengikuti pola hidup Rasulullah SAW yang diimaninya yang mengemban kewajiban hanya menyampaikan belaka. Demikianlah duta Rasulullah yang pertama itu telah mencapai hasil gemilang yang tiada taranya, suatu keberhasilan yang memang wajar dan layak diperolehnya.

Dalam Perang Uhud, Mush’ab bin Umair adalah salah seorang pahlawan dan pembawa bendera perang. Ketika situasi mulai gawat karena kaum Muslimin melupakan perintah Nabi, maka ia mengacungkan bendera setinggi-tingginya dan bertakbir sekeras-kerasnya, lalu maju menyerang musuh. Targetnya, untuk menarik perhatian musuh kepadanya dan melupakan Rasulullah SAW. Dengan demikian ia membentuk barisan tentara dengan dirinya sendiri.

Tiba-tiba datang musuh bernama Ibnu Qumaiah dengan menunggang kuda, lalu menebas tangan Mush’ab hingga putus, sementara Mush’ab meneriakkan, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul.”

Maka Mush’ab memegang bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mush’ab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya ke dada sambil berucap, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul.”

Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak, dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah. Mush’ab pun gugur, dan bendera jatuh. Ia gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada.

Rasulullah bersama para sahabat datang meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai di tempat terbaringnya jasad Mush’ab, bercucuranlah dengan deras air matanya.

Tak sehelai pun kain untuk menutupi jasadnya selain sehelai burdah. Andai ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan di kakinya, terbukalah kepalanya. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan kakinya tutuplah dengan rumput idzkhir!”

Kemudian sambil memandangi burdah yang digunakan untuk kain penutup itu, Rasulullah berkata, “Ketika di Makkah dulu, tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripadanya. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah.”

Setelah melayangkan pandang, ke arah medan laga serta para syuhada, kawan-kawan Mush’ab yang tergeletak di atasnya, Rasulullah berseru, “Sungguh, Rasulullah akan menjadi saksi nanti di hari kiamat, bahwa kalian semua adalah syuhada di sisi Allah!”

Kemudian sambil berpaling ke arah sahabat yang masih hidup, Rasulullah bersabda, “Hai manusia, berziarahlah dan berkunjunglah kepada mereka, serta ucapkanlah salam! Demi Allah yang menguasai nyawaku, tak seorang Muslim pun sampai hari kiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereka akan membalasnya.”

Redaktur: cr01
Sumber: 101 Sahabat Nabi karya Hepi Andi Bastoni

Bio Farma sasar Amerika Latin dan Afrika

ahun lalu.

Hal serupa juga diungkap pihak Perwakilan Tetap Indonesia di Jenewa, kota di mana WHO dan UNICEF bermarkas besar. Kedua instansi internasional inilah yang menjadi pembeli terbesar vaksin buatan PT Bio Farma (Persero), sementara India pasar terbesar untuk kategori negara.

“Saat itu saga sudah bayangkan bahwa kita harus bermitra dengan China dan harus dilakukan pengubahan strategi dan investasi. Kami berinvestasi cukup besar dalam hal fasilitas praproduksi dan produksi selain investasi SDM peneliti. Yang ideal, kami punya 100 doktor di bidang terkait vaksin ini,” katanya.

Salah satu modal utama yang dimiliki Indonesia adalah plasma nutfah utama bahan dasar vaksin yang berlimpah ruah. Sebagai gambaran, dunia selalu menoleh kepada Indonesia saat menyinggung dan mencari pemecahan atas penyebaran virus H1N5 yang jauh lebih berbahaya ketimbang H1N1; keduanya masuk ke dalam genera virus flu burung.

PT Bio Farma, katanya, sangat serius menyiapkan sumber daya manusianya. “Kami lebih suka menyekolahkan peneliti kami yang sudah sangat paham dengan keperluan kami ketimbang langsung merekrut ilmuwan pada tingkat strata tiga yang baru jadi. Inilah, kita juga berhadapan dengan masalah ketiadaan konektivitas antara dunia pendidikan dan riset dengan industri. Seharusnya ini nyambung,” katanya. (ANT)

Editor: Ade Marboen

By margono Posted in Berita
Israel

Pemerintah Israel Bebaskan 550 Narapidana Asal Palestina

This slideshow requires JavaScript.

Tel Aviv – Pemerintah Israel memutuskan untuk membebaskan 550 narapidana asal Palestina. Pembebasan para narapidana ini merupakan bagian dari proses pertukaran dengan pembebasan tentara Israel, Gilad Shalit yang ditahan oleh Hamas selama lebih dari 5 tahun.

Para narapidana asal Palestina tersebut dijadwalkan untuk dibebaskan pada Minggu (18/12) waktu setempat. Pembebasan 550 narapidana ini merupakan tahap kedua, dimana pada pertengahan Oktober lalu, pemerintah Israel telah membebaskan 477 narapidana Palestina yang tengah menjalani hukuman seumur hidup.

Demikian seperti diberitakan oleh Haaretz, Minggu (18/12/2011). Sebagian besar narapidana yang dibebaskan oleh pemerintah Israel ini merupakan anggota Hamas. Mereka yang dibebaskan pada hari ini rata-rata terjerat hukuman ringan.

Para narapidana ini dibawa ke markas militer Israel di wilayah Tepi Barat Israel, dekat Ramallah. Selanjutnya, mereka akan menyeberang ke wilayah Palestina pada malam hari.

Sementara itu, sekitar 40 narapidana lainnya telah dibawa ke Kerem Shalom melalui Jalur Gaza. Sedangkan 2 narapidana dari Yerusalem Timur dan 2 narapidana dari Yordania dibawa ke Allenby Bridge, tepatnya wilayah perbatasan Israel sebelah timur.

Pembebasan para narapidana ini dilakukan pasca keluarnya putusan Mahkamah Agung Israel, pada Sabtu (17/12), yang menolak petisi yang menentang pembebasan para narapidana Palestina tersebut. Petisi tersebut diajukan oleh keluarga warga Israel yang tewas akibat serangan militan Palestina.

Dalam penolakannya, Mahkamah Agung menegaskan, bahwa pembebasan para narapidana Palestina tersebut merupakan kebijakan pemerintah Israel yang tidak bisa diintervensi oleh pengadilan.

(nvc/nwk)